Kebaya adalah baju nasional kebanggaan bangsa Indonesia yang sudah umum dimiliki oleh para wanita Indonesia. Saya memiliki satu kebaya yang bisa dikatakan sebagai kebaya andalan saya. Dikatakan andalan karena memang kebaya ini yang mempunyai cerita paling banyak dalam menemani saya di momen-momen penting di kehidupan saya.
Kebaya andalan saya ini berwarna putih, terbuat dari bahan kain chiffon. Kainnya bertekstur halus, lembut dan juga tipis sehingga jatuhnya mengikuti bentuk tubuh. Karena bahannya yang agak menerawang, sehingga ada tambahan furing, sebatas dada hingga pinggang. Sebagai pasangannya, ada selendangnya juga, dengan bahan yang sama, sangat cocok ketika dipakai.

Saya mulai memiliki kebaya ini ketika saya akan menikah. Lho, kan, dari sejarahnya saja sudah istimewa ya, gak heran kalau ternyata kebaya ini pada akhirnya memang istimewa bagi saya. Ketika membuat janji dengan perias wajah untuk acara akad nikah saya, sang perias juga menawarkan kebaya buatannya, yang kebetulan sudah hampir selesai dijahit. Ketika saya coba, ternyata cocok, jadi langsung saya iyakan untuk membelinya. Padahal kebaya itu dibuat bukan berdasarkan pesanan saya, tapi kok ya pas, pas saya butuh kebaya putih, pas sang perias punya.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya kebaya andalan saya ini memang sudah berjodoh dengan saya.
Pertama kali saya memakai kebaya andalan ini ketika saya dan suami melakukan akad nikah. Dengan riasan wajah lengkap dengan gaya rambut memakai konde yang ditambahkan hiasan bunga melati. Kalau saya ingat-ingat, saya cukup suka dengan gaya makeup yang dihasilkan sang perias, padahal saya paling tidak suka memakai makeup yang lengkap. Kebaya ini dipasangkan dengan kain batik bermotif gelap dan selop hitam. Manten banget.
Setelah acara istimewa itu, kebaya andalan saya hanya masuk di dalam lemari baju saja. Saya tidak pernah memakainya, karena merasa sayang, eman-eman. Saya merasa sayang sama kebaya itu. Jadi saya rutin angin-anginkan saja.
Sebelas tahun setelah acara akad nikah saya, ternyata saya sekeluarga harus hidup merantau di negara Jepang, menemani suami yang harus sekolah S3. Dengan berbagai macam persiapan, saya juga memikirkan harus sedia baju resmi, padahal gak tau juga, ada kesempatan kah datang ke acara resmi di tempat rantau. Yang penting siap aja. Pilihan saya jatuh pada si kebaya andalan. Kenapa? Karena terbatasnya jumlah pakaian yang bisa saya bawa, jadi saya merasa yang berhak saya bawa ya yang istimewa. Akhirnya ikutlah kebaya itu, terbang jauh ke utara, menemani saya.
Setelah sekitar enam bulan lamanya tinggal di tempat baru, ternyata datang juga kesempatan untuk memakai kebaya. Kami sekeluarga mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan dari anak perempuan dari keluarga Jepang host family kami. Sungguh istimewa, karena acara pernikahan di Jepang biasanya hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa undangan yang memang dianggap terdekat. Biasanya dihadiri sekitar 50 orang. Tentu saja, kami sekeluarga sangat senang dengan undangan tersebut dan berusaha untuk hadir dengan semangat 45. Kami sekeluarga memakai baju nasional Indonesia dong. Suami dan anak laki-laki saya memakai kemeja batik dan celana kain, anak perempuan saya memakai rok batik terusan, dan saya memakai si kebaya andalan. Di saat itulah, saya mulai memahami dan mengerti bagaimana rasanya bangga menjadi bangsa Indonesia. Diperhatikan karena beda sendiri, malah makin membuat nasionalisme saya tumbuh. Berbunga-bunga dan mekar mewangi.
Undangan untuk menghadiri pernikahan itu seakan menjadi tonggak keeksisan si kebaya andalan saya. Karena setelah itu, banyak sekali ternyata momen yang mengharuskan saya memakai kebaya istimewa saya itu di tanah rantau.
Ada saat ketika saya harus mengisi acara di satu acara resmi, harus tampil menyanyikan lagu keroncong Bengawan Solo. Saya memakai kebaya dan kain batik, rambut dicepol, nyanyi deh. Jangan ditanya suaranya. Gak enak lah, wong saya gak bisa nyanyi. Yang penting berusaha gak fals, sudah cukup. Lain kesempatan datang lagi, saya diundang untuk datang menghadiri acara penyerahan sertifikat penghargaan untuk kegiatan saya di sekolah SD anak saya. Saya ikut aktif sebagai volunteer membacakan buku dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang, kepada murid-murid kelas satu sampai kelas 3. Nah kegiatan itu diapresiasi oleh pemerintah setempat, jadi kelompok kami akan menghadiri acara penyerahan sertifikatnya, dengan saya ikut hadir dan memakai kebaya. Semua yang hadir memakai baju resmi setelan jas atau pun dress warna hitam atau putih, lha saya dong, pakai kebaya dan kain batik dan high heels. Saat itu saya juga merasa jadi Indonesia banget.
Kesempatan lain juga ada, yang membuat saya minimal satu kali dalam seminggu pakai kebaya. Saya dapat part time job menjadi model di kelas lukis. Kadang-kadang ada dua kelas lukis yang mengundang saya dalam satu minggu. Dan saya gak perlu bingung pakai baju apa, mereka cuma mau saya memakai baju tradisional Indonesia. Ya tentu saja, si kebaya andalan yang saya pakai, karena ya memang cuma satu kebaya itu yang saya bawa. Untuk variasi, saya hanya perlu mengganti selendang nya saja dengan pashmina yang saya punya. Jadi kadang memakai kebaya dan kain batik saja, kadang kebaya dengan kain batik dan selendang, kadang dengan pashmina.
– GNINOD, JUNE 2020 –
Sungguh ya, kita ini tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita gak tahu apa yang akan kita butuhkan, akan jadi seperti apa kita. Yang kita bisa hanya bersiap-siap untuk melakukan yang kita bisa, sekarang, di masa ini, detik ini.
Kalau diingat-ingat, waktu saya nyanyi keroncong itu suara saya kok jelek banget ya. Aduh, malu deh sebenernya. Pose saya di kelas lukis itu kok gak bisa keren, ya. Aduh, kaku banget deh. High heels yang saya pakai kok gak matching sama kebaya saya. Aduh, norak ih.
Tapi, karena pakai si kebaya andalan, saya kok jadi pede banget waktu itu. Saya merasa ditemani, dikuatkan hati ini sama kebaya itu. Apaan se,, mosok kebaya bisa menguatkan hati..wkwk lebay. Gak tau lebay, gak tau apa, yang penting saya bersyukur ditakdirkan untuk bertemu dan bisa mempunyai si putih kebaya andalan, yang sampai sekarang masih saya simpan dengan baik.
Alhamdulillah,,,
– doning, june 2020 –















