si kebaya andalan


Kebaya adalah baju nasional kebanggaan bangsa Indonesia yang sudah umum dimiliki oleh para wanita Indonesia. Saya memiliki satu kebaya yang bisa dikatakan sebagai kebaya andalan saya. Dikatakan andalan karena memang kebaya ini yang mempunyai cerita paling banyak dalam menemani saya di momen-momen penting di kehidupan saya.


Kebaya andalan saya ini berwarna putih, terbuat dari bahan kain chiffon. Kainnya bertekstur halus, lembut dan juga tipis sehingga jatuhnya mengikuti bentuk tubuh. Karena bahannya yang agak menerawang, sehingga ada tambahan furing, sebatas dada hingga pinggang. Sebagai pasangannya, ada selendangnya juga, dengan bahan yang sama, sangat cocok ketika dipakai.


Saya mulai memiliki kebaya ini ketika saya akan menikah. Lho, kan, dari sejarahnya saja sudah istimewa ya, gak heran kalau ternyata kebaya ini pada akhirnya memang istimewa bagi saya. Ketika membuat janji dengan perias wajah untuk acara akad nikah saya, sang perias juga menawarkan kebaya buatannya, yang kebetulan sudah hampir selesai dijahit. Ketika saya coba, ternyata cocok, jadi langsung saya iyakan untuk membelinya. Padahal kebaya itu dibuat bukan berdasarkan pesanan saya, tapi kok ya pas, pas saya butuh kebaya putih, pas sang perias punya.


Kalau dipikir-pikir, sepertinya kebaya andalan saya ini memang sudah berjodoh dengan saya.


Pertama kali saya memakai kebaya andalan ini ketika saya dan suami melakukan akad nikah. Dengan riasan wajah lengkap dengan gaya rambut memakai konde yang ditambahkan hiasan bunga melati. Kalau saya ingat-ingat, saya cukup suka dengan gaya makeup yang dihasilkan sang perias, padahal saya paling tidak suka memakai makeup yang lengkap. Kebaya ini dipasangkan dengan kain batik bermotif gelap dan selop hitam. Manten banget.


Setelah acara istimewa itu, kebaya andalan saya hanya masuk di dalam lemari baju saja. Saya tidak pernah memakainya, karena merasa sayang, eman-eman. Saya merasa sayang sama kebaya itu. Jadi saya rutin angin-anginkan saja.
Sebelas tahun setelah acara akad nikah saya, ternyata saya sekeluarga harus hidup merantau di negara Jepang, menemani suami yang harus sekolah S3. Dengan berbagai macam persiapan, saya juga memikirkan harus sedia baju resmi, padahal gak tau juga, ada kesempatan kah datang ke acara resmi di tempat rantau. Yang penting siap aja. Pilihan saya jatuh pada si kebaya andalan. Kenapa? Karena terbatasnya jumlah pakaian yang bisa saya bawa, jadi saya merasa yang berhak saya bawa ya yang istimewa. Akhirnya ikutlah kebaya itu, terbang jauh ke utara, menemani saya.


Setelah sekitar enam bulan lamanya tinggal di tempat baru, ternyata datang juga kesempatan untuk memakai kebaya. Kami sekeluarga mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan dari anak perempuan dari keluarga Jepang host family kami. Sungguh istimewa, karena acara pernikahan di Jepang biasanya hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa undangan yang memang dianggap terdekat. Biasanya dihadiri sekitar 50 orang. Tentu saja, kami sekeluarga sangat senang dengan undangan tersebut dan berusaha untuk hadir dengan semangat 45. Kami sekeluarga memakai baju nasional Indonesia dong. Suami dan anak laki-laki saya memakai kemeja batik dan celana kain, anak perempuan saya memakai rok batik terusan, dan saya memakai si kebaya andalan. Di saat itulah, saya mulai memahami dan mengerti bagaimana rasanya bangga menjadi bangsa Indonesia. Diperhatikan karena beda sendiri, malah makin membuat nasionalisme saya tumbuh. Berbunga-bunga dan mekar mewangi.
Undangan untuk menghadiri pernikahan itu seakan menjadi tonggak keeksisan si kebaya andalan saya. Karena setelah itu, banyak sekali ternyata momen yang mengharuskan saya memakai kebaya istimewa saya itu di tanah rantau.


Ada saat ketika saya harus mengisi acara di satu acara resmi, harus tampil menyanyikan lagu keroncong Bengawan Solo. Saya memakai kebaya dan kain batik, rambut dicepol, nyanyi deh. Jangan ditanya suaranya. Gak enak lah, wong saya gak bisa nyanyi. Yang penting berusaha gak fals, sudah cukup. Lain kesempatan datang lagi, saya diundang untuk datang menghadiri acara penyerahan sertifikat penghargaan untuk kegiatan saya di sekolah SD anak saya. Saya ikut aktif sebagai volunteer membacakan buku dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang, kepada murid-murid kelas satu sampai kelas 3. Nah kegiatan itu diapresiasi oleh pemerintah setempat, jadi kelompok kami akan menghadiri acara penyerahan sertifikatnya, dengan saya ikut hadir dan memakai kebaya. Semua yang hadir memakai baju resmi setelan jas atau pun dress warna hitam atau putih, lha saya dong, pakai kebaya dan kain batik dan high heels. Saat itu saya juga merasa jadi Indonesia banget.


Kesempatan lain juga ada, yang membuat saya minimal satu kali dalam seminggu pakai kebaya. Saya dapat part time job menjadi model di kelas lukis. Kadang-kadang ada dua kelas lukis yang mengundang saya dalam satu minggu. Dan saya gak perlu bingung pakai baju apa, mereka cuma mau saya memakai baju tradisional Indonesia. Ya tentu saja, si kebaya andalan yang saya pakai, karena ya memang cuma satu kebaya itu yang saya bawa. Untuk variasi, saya hanya perlu mengganti selendang nya saja dengan pashmina yang saya punya. Jadi kadang memakai kebaya dan kain batik saja, kadang kebaya dengan kain batik dan selendang, kadang dengan pashmina.


Sungguh ya, kita ini tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita gak tahu apa yang akan kita butuhkan, akan jadi seperti apa kita. Yang kita bisa hanya bersiap-siap untuk melakukan yang kita bisa, sekarang, di masa ini, detik ini.

– GNINOD, JUNE 2020 –


Kalau diingat-ingat, waktu saya nyanyi keroncong itu suara saya kok jelek banget ya. Aduh, malu deh sebenernya. Pose saya di kelas lukis itu kok gak bisa keren, ya. Aduh, kaku banget deh. High heels yang saya pakai kok gak matching sama kebaya saya. Aduh, norak ih.
Tapi, karena pakai si kebaya andalan, saya kok jadi pede banget waktu itu. Saya merasa ditemani, dikuatkan hati ini sama kebaya itu. Apaan se,, mosok kebaya bisa menguatkan hati..wkwk lebay. Gak tau lebay, gak tau apa, yang penting saya bersyukur ditakdirkan untuk bertemu dan bisa mempunyai si putih kebaya andalan, yang sampai sekarang masih saya simpan dengan baik.

Alhamdulillah,,,

– doning, june 2020 –

jadi beda itu (lumayan) asyik (lho)

Dari lahir sampai dewasa, saya tinggal di lingkungan dengan berbagai macam budaya, pun perbedaan agama maupun kepercayaan sudah biasa. Sampai tiba saatnya, saya hidup merantau di negara Jepang, dengan adat budaya maupun kondisi yang homogen di dalam masyarakatnya.


Jepang itu serba sama. Dari wilayah utara sampai selatan, mempunyai adat budaya yang sama. Punya bahasa yang sama. Di bidang kehidupan yang lain pun, Jepang seakan punya peraturan sama. Misal dalam pendidikan nya, kurikulum sekolah negeri meski ada di kota besar maupun di kota kecil, akan mempunyai kegiatan yang sama. Fasilitas layanan publik, pengaturan pemilahan sampah di lingkungan tempat tinggal, sampai dengan acara atau festival yang diadakan di tiap musim, setiap daerah akan mempunyai konsep yang sama.


Jadi ingat, ada satu kebiasaan untuk setiap anak yang baru mulai masuk di kelas satu di sekolah dasar di Jepang. Biasanya, mereka akan memakai tas unik, tas khusus yang sepertinya hanya ada di Jepang. Namanya Randoseru, tas hand made buatan Jepang, berbentuk kotak berbahan kulit dengan bobot yang lumyan berat. Entah mulai kapan kebiasaan itu, tapi sudah umum, kalau yang namanya murid baru di SD ya pasti memakai tas Randoseru. Dan harganya lumayan mahal, mulai dari harga sekitar 10.000 yen ke atas, atau sekitar 1 juta rupiah ke atas. Wow kan? Sebagai warga asing, tentu saja kami tidak tahu tentang adanya “kebiasaan” itu. Anak kami yang kedua, yang akan mulai bersekolah di kelas satu SD tentu saja tidak ada rencana dari kami untuk memakai Randoseru. Tas sekolah ya tas sekolah yang kami bawa dari Indonesia. Tas warna pink merk Export asli buatan Indonesia dengan harga sekitar 100 ribu rupiah (saat itu).
Tapi yang namanya rejeki, gak akan kemana ya. Salah satu keluarga Jepang kenalan baik kami yang tinggal di Tokyo, pada suatu hari memberi kabar kalau akan mengirimkan paket untuk anak kami. Katanya sih hadiah, karena akan masuk SD. Tepat sebelum mulainya ajaran baru, paketnya datang. Betapa terkejutnya kami, ketika kami buka, ternyata isinya tas Randoseru warna pink, dengan kualitas yang sangat bagus. Entah berapa pastinya harganya, yang pasti jutaan rupiah ya.


Memang tidak ada peraturan tertulis yang menyatakan kalau setiap murid baru kelas 1 SD harus memakai tas Randoseru. Namun hal itu sudah menjadi kebiasaan. Jadi kalau ada yang tidak memakai Randoseru, ya kelihatan banget bedanya. Sudah pasti anak warga asing. Berarti semua orang Jepang kaya dong. Anaknya mau masuk sekolah SD saja, tasnya yang harga jutaan. Banyak jalan menuju Roma. Kalau gak bisa beli yang baru, ya cari saja barang second nya. Kalau belinya di used shop, bisa dapat mulai dari harga 1000 yen saja atau sekitar 100 ribu rupiah. Yang penting sama dengan anak yang lain, pakai tas Randoseru.


Jepang itu serba sama. Kalau gak sama, pasti jadi pusat perhatian. Entah itu diperhatikan, entah itu diomongin, beda tipis.

– mrs. d , june 2020 –


Itu di dunia anak-anak ya. Apalagi di dunia orang dewasa. Pasti akan banyak kesempatan dalam kehidupan sehari-hari untuk datang ke acara yang sifatnya resmi. Misalnya, acara penerimaan murid baru, acara wisuda, acara pernikahan, dan sebagainya. Bahkan, sampai ke cara kita berpakaian, ada semacam peraturan tidak tertulis di Jepang. Untuk laki-laki, pasti memakai jas berwarna gelap lengkap dengan kemeja putih dan dasi. Dan juga untuk wanitanya, pasti memakai setelan blazer atau jas, atau pun dress, bisa warna hitam, putih atau abu-abu. Dalam satu acara resmi, terlihat seperti semua orang mendapat seragam yang sama dari pemilik acaranya. Padahal ya nggak, semua punya pribadi. Kalau ada yang datang dan memakai kostum beda, misalkan datang memakai blazer warna hijau tua, ya sudah pasti, jadi pusat perhatian.


Serba sama memang enak, kelihatan kompak ya. Tapi kalau memang gak punya yang sama, ya jadinya kepikiran. Jadi takut kelihatan beda. Jadi khawatir jadi pusat perhatian.
Harus punya mental baja kalau mau jadi pusat perhatian. Untungnya, kami memang pendatang. Warga asing yang memang sedang merantau. Ada begitu banyak kesempatan yang memang menjadikan kami pusat perhatian. Ada satu waktu ketika kami mendapat kesempatan untuk datang ke acara pernikahan orang Jepang. Semua undangan yang datang tentu saja memakai setelan jas, ada para wanitanya yang memakai kimono resmi. Dan kami datang tentu saja memakai baju nasional Indonesia. Suami dan anak laki-laki saya memakai kemeja batik lengan panjang. Anak perempuan saya memakai rok batik terusan. Dan saya memakai kebaya dengan kain batik. Diperhatikan, dan mungkin juga sedikit diomongin. Ya mau gimana lagi, memang saya gak punya blazer. Dan masih belum ngeh juga kalau di Jepang ternyata suka yang seiya sekata.


Tapi jadi beda sendiri sering juga sangat menguntungkan. Kita jadi gampang sekali diingat orang.

“Doning san? aa sitteru , gaikokujin no hito desu yo ne?”
(Doning san? Ohh iya tau, orang asing itu kan?)


Ya memang kami warga pendatang, mau gimana lagi. Ya sekalian aja dikuatkan image nya. gak perlu ragu-ragu, gak usah malu, gak usah menundukkan kepala kalau sedang di tanah rantau. Jadi beda itu lumayan asyik lho.


Tegakkan kepala. Busungkan dada. Jangan hindari kontak mata. Tunjukkan kalau kamu ada.

– gninod, mei 2020 –

cerita lalu bersama mbahkung

Mbahkung Adjie Soedarpo, meskipun sangat tegas dan berwibawa, namun dalam kesehariannya adalah sosok yang sangat penyayang, lembut dan baik hatinya. Semua orang yang berada di sekitarnya pasti bisa merasakan perhatian yang begitu besar dari Mbahkung. Apalagi kepada anak cucunya, Mbahkung akan selalu mencurahkan kasih sayangnya yang penuh. Tak heran, ada begitu banyak kisah yang akan selalu diingat, entah itu yang menyenangkan, ataupun yang menyedihkan setelah dimarahi Mbahkung, hehe. Berikut beberapa cerita masa lalu bersama Mbahkung yang saya kumpulkan dari anak cucunya:

Kapok Galak Gampil

– dari cucu Doning Retno Pudjowati

Kisah ini terjadi ketika saya berusia sekitar 6 atau 7 tahun lah. Masih kecil pokoknya hehe. Lebaran adalah momen yang selalu saya tunggu-tunggu, sejak masih kecil. Terutama ketika Mbahkung masih ada, semua anggota keluarga pasti akan berkumpul di rumah Mbahkung. Ada yang menginap sejak malam Lebaran, banyak pula yang berkunjung sampai H+7 Lebaran. Mbahuti pasti akan sangat sibuk menyiapkan suguhan untuk para tamu. Dan Mbahkung tentu saja juga pasti sibuk menemui para tamu.


Karena saya sangat sering menginap di rumah Mbahkung, tentu saja jadi punya banyak teman sebaya yang tinggal di sekitaran rumah Mbahkung. Mereka punya tradisi Galak Gampil ketika Lebaran tiba, yaitu keliling kampung, ke rumah-rumah untuk mengucapkan selamat Lebaran dan yang terutama minta uang sangu dari pemilik rumah. Tentu saja, saya juga diajak dong. Mbahkung sudah wanti-wanti ke saya beberapa hari sebelum Lebaran, “Ning, ora usah melu konco-koncomu galak gampilan. Mbahkung gak seneng. Ora pareng iku. Yo?” Saya cuma bisa manthuk sambil jawab, “Nggih, Mbahkung.” Padahal penasaran juga, gimana rasanya ya? Pasti seru hehe
Dan tibalah hari yang ditunggu tiba. Lebaran hari pertama. Setelah sholat Ied selesai, para tamu mulai berdatangan ke rumah Mbahkung. Mbahuti sibuk di dapur, dan Mbahkung terlihat asyik mengobrol dengan tamunya. Tampak di pojok luar pagar rumah, ada teman saya yang inceng-inceng, mencari saya tentunya. Diam-diam, saya keluar rumah dari pintu samping, dan bergabung dengan teman-teman saya. Yes! Berhasil! Petualangan galak gampil akan dimulai haha.


Kami masuk kerumah pertama yang tak jauh dari rumah Mbahkung. Setelah salim sama pemilik rumah, masing-masing dari kami diberi uang koin. Wow senangnya haha. Begitu keluar dari dalam rumah dan menuju pagar, terlihat di balik pagar, ada sosok tinggi, rambutnya putih keperakan, memakai baju koko dan sarung, sambil matanya menatap tajam ke arah kami.

“Mbahkungmu, Ning!” teriak teman-teman sambil lari berhamburan keluar halaman, menyelamatkan dirinya masing-masing.


Tanpa kata-kata, Mbahkung mengulurkan tangannya ke saya, dan saya cuma bisa pasrah, menggandeng tangan Mbahkung, berjalan pulang dengan kepala tertunduk. Takut dimarahi, malu, menyesal menjadi satu. Sesampainya di rumah, Mbahkung tidak berkata apapun membahas tentang kejadian itu. Yang saya ingat, seharian itu Mbahkung gak ada mesemnya ke saya. Dan saya, kapok, sejak saat itu gak mau lagi diajak yang aneh-aneh sama teman-teman saya. Cukup sekali itu aja, saya kapok gak nurut lagi sama Mbahkung. Hehe

Bahagianya Menjadi Cucunya Mbahkung

– dari cucu Doning Retno Pudjowati

Kalau cerita yang di atas tadi pengalaman yang kurang menyenangkan bersama Mbahkung, yang ini tentu saja kisah yang menyenangkan. Biar seimbang ya hehe. Mbahkung sangat dekat dengan para cucunya. Menyenangkan sekali kalau sedang berada di dekatnya Mbahkung. Itulah yang saya rasakan semasa Mbahkung masih ada.
Sewaktu masih kecil sampai SMP (sebelum Mbahkung meninggal dunia), saya sering sekali menginap di rumah Mbahkung. Biasanya Sabtu siang sepulang sekolah, saya pasti ditanya oleh Mama (ibu saya tercinta), “Ning, mau ke rumah Mbahkung apa gak?” dan kalau tidak ada rencana untuk di hari Minggu nya, tentu saja saya pasti mengiyakan tawaran dari Mama.


Gak tahu kenapa ya, saudara-saudara saya yang lain kok gak sesering saya menginap di rumah Mbahkung. Itu misteri yang belum terpecahkan jawabannya hehe.
Biasanya Mama yang mengantarkan saya pergi ke rumah Mbahkung. Mama juga yang biasanya menjemput saya pulang di hari Minggu siang atau sore.

Terima kasih, Mama.

– doning retno pudjowati, mei 2020

Hehe Baru setelah saya SMP, pulang sekolah di hari Sabtu biasanya saya langsung menuju ke rumah Mbahkung, dengan masih memakai seragam sekolah lengkap.
Sesampainya di rumah Mbahkung, pasti akan disambut dengan senyum dan wajah bahagia. Saya tidak perlu membawa baju ganti atau pun sikat gigi, karena perlengkapan saya sudah cukup banyak disimpan di lemari bajunya Mbahkung haha. Bahkan saya juga punya banyak mainan di rumah Mbahkung. Di malam harinya, Mbahkung pasti minta Mbahuti untuk memasak sesuai keinginan saya untuk menu di hari Minggu. Wow luar biasa haha.


Bukan itu saja luar biasanya, waktu tidur juga menjadi momen istimewa bagi saya. Saya tidur satu kasur bersama Mbahkung Mbahuti. Saya di pinggir kiri dekat tembok, dan Mbahkung di tengah sebelah saya. Biasanya Mbahkung akan bertanya, “Kepingin dicritani opo?” Mbahkung sangat pandai mendongeng. Kata-katanya dan gerak badannya bisa menghipnotis ketika mendongeng. Dan stok ceritanya banyak sekali. Mulai dari cerita wayang Arjuna, Bima, Semar, Kresna dan sebagainya. Sampai dengan cerita Kancil, Gantrung, Gajah, dan sebagainya. Tinggal sebut tema dongeng yang saya inginkan, cuss langsung Mbahkung mulai mendongeng.
Mbahkung akan mendongeng sampai saya mengantuk. Kalau dongengnya sudah habis dan ternyata saya masih melek, Mbahkung pasti mengelus punggung saya, sampai saya tertidur. Istimewa bukaaan?? Hehe


Besok paginya, ketika saya bangun, biasanya Mbahkung ada di halaman samping rumah, sedang merawat kembang Sepatu nya. Mbahkung suka berkebun dan punya banyak macam bunga Sepatu yang berwarna-warni. Sabar dan teliti, itu yang saya ingat ketika melihat Mbahkung merawat bunga-bunganya.
Momen menginap di rumah Mbahkung seolah menjadi momen untuk mendapatkan suasana nyaman, tenang, yang tidak terlupakan bagi saya. Dan juga kesempatan untuk mendapat perhatian istimewa dari Mbahkung tentunya. Sungguh perasaan yang tidak terlupakan, bahagianya hati ini menjadi cucunya Mbahkung.

Kenangan Indah Bersama Mbahkung Tersayang

dari cucu Rahadian Dwi Saksono

Cerita ini inget tapi samar.. waktu membangun rumah di Jalan Selorejo aku masih belum sekolah. Tiap berangkat ke sana sama Mbahkung untuk bangun rumah., Mama selalu bawan tepak atau kotak nasi dari plastik berisi nasi sama lauk tempe goreng. Makan nasi tepak itu biasanya pas makan siang. Pernah kejadian nasinya sudah dikerubuti sama semut. Mbahkung bilang sama aku, “ Ayo son, semut e dimakan ae wes…sikat!” dengar Mbahkung bilang gitu, aku makan nasi sama semut dengan semangat. Istimewa pokok e.

Mbahkung sama aku pernah nih, jalan kaki dari rumah Selorejo sampe depan Polresta Malang yang lama (sekarang jadi McDonald Kayutangan) gara-gara telat dijemput sama papa mama naik mobil. Nah Mbahkung sama aku, ketemu ppa mama di depan Polresta Malang, tapi aku lagi digendong belakang sama Mbahkung. Who Mbahkkung kalau masalah jaan emang josh… kuat banget jalan sambil gendong aku yang gendut….
Mbahkung setiap mau jalan ke pasar Cinde di Palembang selalu ngajak aku. Kami kalau ke pasar naik angkot dari rumah Ariodilla… angkot itu Kijang dari bodi kayu… pintunya ada 6 pokoke tradisional banget. Kalo habis dari pasar Mbahkung pasti belikan aku ice cream yang pake cub…selalubeli. Wah aku selalu seneng banget… pokoke happy lop…

Suatu saat aku sakit… badanku panas tinggi… kalo gak salah aku masih SD dan di rumah di Jl Teluk Popoh atau sekarang Jl Ikan Belida II no 5 Malang. Waktu siang itu… tiba-tiba Mbahkung datang dan trus datang ke aku… “Lho, cucune Mbahkung sakit…minta opo?” Spontan aku jawab minta jeruk bali. Dan Mbahkung pun bilang akan membelikannya trus Mbahkung berangkat. Kondisi badanku masih panas sampe sama Mama kakiku dikompres pake botol airdingin tapi suhu badan belum juga turun. Esok harinya Mbahkung datang sambil bawa jeruk bali walau ukurannya agak kecil. Buahnya langsung dikupas trus aku disuruh makan. Agak eberapa lama panas badanku berangsur turun dan aku pun bertambah sehat. Dan yang dengar waktu Mama tanya dapet buahnya dimana.. bahkung jawab kalo dapetnya di pasar Mergan… jadi Mbahkung jalan kaki dari rumah Jalan Belida sampe Pasar Mergan. Wah Mbahkung begitu sayangnya sama cucunya… Istimewa….

Mbahkung selalu tahu apa yang sipingini cucunya. Waktu di Palembang kita masih tinggal di mess (asrama)… aku suka mainan sama kucing liar warna putih orange…kondisi kotor gak terawat. Trus tanpa setahu aku…kucing itu ditangkap sama Mbahkung trus dimandiin sampe bersih… Mama tahu itu trus bilang ke Mbahkung … “PI, kucing niku rusuh kok diadusi…rusuh, Pi”
Mbahkung jawab, “Lha anakmu seneng kucing iki timbangane dicekel cekel rusuh…diadusi ae.” Mama gak berani bantah kalo sudah gitu. Nah, pas aku pulang ekolah kucingnya udah bersih banget… Ini hewan peliharaan yang pertama di kelas 2 SD dan yang terakhir… aku kasih nama Kumis. Kumis yang setia… Kumis yang lucu… Kumis yang pinter… Kumis oh Kumis…

mbahkung & mbahuti

“Bapaknya Mama itu siapa sih, buk”

“Lahir dimana sih keluarganya Mama?”

Anak-anak saya memanggil Mama ke neneknya. Mereka sering bertanya tentang asal usul ibu saya. Di blog ini, saya mulai berusaha menuliskan tentang sejarah atau riwayat keluarga besar saya. Kali ini, saya akan mulai dengan menuliskan riwayat tentang kedua orang tua dari ibu saya, atau kakek dan nenek saya, yaitu Mbahkung Adjie Soedarpo dan Mbahuti Nasmi.

H. ADJIE SOEDARPO
Lahir : Yogyakarta, 12 Juni 1907
Wafat : Malang, 12 Juni 1993


Bapak Adjie Soedarpo, biasa dipanggil dengan panggilan kesayangan Mbahkung oleh semua cucu-cucunya. Dan dengan panggilan kesayangan Papi oleh Mbahuti dan juga para putra putrinya.
Beliau mempunyai bapak bernama Wiroguno, yang lahir di Ndalem Kasepuhan Keraton Jogyakarta. Dan ibu bernama Siti Naimah, yang lahir di Padang Pariaman. Beliau menjadi anak tunggal, lahir dan dibesarkan di Yogyakarta, tepatnya di Ndalem Kasepuhan Keraton Jogyakarta.


Mbahkung adalah sosok yang sangat berwibawa di keluarga besar kami. Badannya langsing tinggi, tegap, berkulit kuning langsat, rambut lurus dengan belahan samping, dengan wajah yang sangat ganteng. Dengan nada suara yang selalu teratur, sorot mata yang tajam dan alis yang tebal. Sikap disiplin dan penuh dengan tata krama selalu diajarkan kepada anak cucunya. Bahkan saya, sejak usia sekitar 4 tahun sudah diharuskan berbicara menggunakan bahasa Jawa halus kepada Mbahkung, meskipun banyak salahnya, tapi tetap harus selalu berusaha berbahasa Jawa halus dengan beliau.
Jadi ingat, sewaktu masih kecil, kalau salah atau lupa tidak ber kromo inggil, pasti Mbahkung pura-pura tidak mendengar perkataan saya, meskipun saya sudah teriak-teriak ngomongnya. Baru kalau saya ingat, atau matur kalau saya tidak tahu kromo inggil nya, Mbahkung balik badan sambil mesem dan bilang, “Arep ngomong opo?”. Lalu saya pasti merangkul Mbahkung dengan erat, lega melihat mesemnya hehe.


Beliau sangat fasih berbahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan bahasa Arab, dan membaca tulisan Arab dengan sangat baik. Tulisan tangannya sangat bagus, bahkan sangat indah (menurut saya). Dengan gaya tulisan sambung khas gaya orang jaman dahulu.

Mbahkung sangat menyukai pertandingan olahraga sepakbola dan tinju. Ketika saatnya Piala Dunia, pasti tidak akan terlewat untuk menonton di televisi. Begitu pun dengan pertandingan tinju, setiap ada laga tinju favoritnya, pasti tidak akan terlewatkan. Beliau juga sangat menggemari keroncong dan mampu melukis dengan sangat baik.


Ada sekelompok penyanyi Keroncong yang sering mampir ke rumah Mbahkung, biasanya sebulan atau dua bulan sekali. Mbahkung pasti mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk di ruang tamu, dan Mbahkung akan menikmati penampilan kelompok tersebut bisa sampai 1 jam lamanya. Dengan suguhan makanan dan minuman dari Mbahuti, dan pemberian “amplop” dari Mbahkung, tak heran, rumah Mbahkung layak jadi rumah favorit bagi kelompok penyanyi tersebut.
Kedisiplinannya sangat terasa bagi semua yang berada di dekatnya. Kalau sedang berkunjung di rumahnya Mbahkung, waktu makan pasti terjadwal dengan rapi. Bagi para cucu, jam untuk tidur dan bangun pun harus manut. Semua serba teratur dan terjadwal, dan tidak ada yang tidak manut. Gak berani hehe.


Namun demikian, semua orang yang mengenal Mbahkung pasti juga mampu merasakan betapa baik dan lembut hatinya. Rumah selalu terasa hangat, perhatian Mbahkung selalu tercurah ke semua orang yang ada di sekitarnya, canda tawa riang juga selalu muncul. Mbahkung suka memakai sarung, baju koko (muslim) dan selop hitam kalau sedang di dalam rumah. Sering ketika bercanda dengan para cucunya, Mbahkung akan mengangkat separuh sarungnya dan menggoyangkan badannya ke kanan ke kiri sambil nyanyi lagu Jawa. Para cucu pasti akan tertawa terpingkal-pingkal melihat kaki sampai separuh paha Mbahkung yang kelihatan jelas. Bahkan kadang-kadang, sarungnya diangkat sampai celana kolornya (celana dalam laki-laki pada jaman dahulu yg bentuknya seperti celana pendek tapi longgar dan berwarna putih) kelihatan. Hahaha


Mbahkung mempunyai fisik yang sangat baik, mungkin karena didukung dengan latar belakang profesi beliau seorang tentara Angkatan Laut. Tapi mungkin juga karena Mbahkung sangat menjaga makanannya atau bisa dibilang pemilih. Makanan kesukaan Mbahkung sehari-hari ya nasi putih hangat dengan tempe goreng dan sayur bening. Mbahkung paling tidak suka kalau ada yang beli makanan dari warung. “Akeh micin e”, kata Mbahkung. Bisa dihitung dengan jari, kalau Mbahkung minta masakan dengan bahan daging. Malah seingat saya, kalau Mbahkung sedang tidak enak badan, beliau minta maem nasi putih dengan pepaya. Kok kebalikan dengan anak jaman sekarang, kalau sedang sakit minta KFC hehe.


Seingat saya, Mbahkung tidak pernah punya sakit yang berat. Paling juga masuk angin dan minta dikerokin. Masalah kerokan ini, karena dulu Mbahkung sangat sering menyuruh saya untuk mengeroki, saya jadi lumayan ahli untuk masalah kerok mengerok. Padahal tangan sudah panas terkena balsem dan sudah pegel, eh malah lanjut harus pijit di pundaknya Mbahkung. Mau bilang capek, ya gak brani. Oala haha.
Mbahkung juga sangat tekun beribadah. Sholat lima waktu dan sholat sunnah selalu dilakukan. Kalau sedang mengaji, suaranya merdu sekali. Yang paling saya ingat, sering melihat Mbahkung sholat duha, khusuk sekali. Jadi tertanam di hati ini, terlihat nikmatnya sholat duha.


Mbahkung meninggal dunia di usia yang cukup sepuh, sekitar 89 tahun, karena memang fisik yang sudah lemah. Tidak ada penyakit berat meskipun sampai usia 70an beliau masih menjadi perokok aktif. Di saat-saat akhir nya, Mbahkung dua kali kecetit (salah otot). Sampai kemudian perlu perawatan atau opname di rumah sakit. Dan kemudian Mbahkung tidak mau makan dan minum, sampai kemudian meninggal dunia. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Untung Suropati di Malang. Semoga semua kesalahan dan kekhilafan semasa hidupnya dihapuskan, dan semoga amal kebaikan, dan ibadahnya diterima di sisi Allah SWT, aamiin yaa robbal aalamiin.

Hj. NASMI
Lahir : Malang, 10 Mei 1934


Ibu Nasmi, biasa dipanggil dengan Mbahuti oleh semua cucu cicitnya, dan dengan panggilan Ibuk oleh semua putra putrinya. Mbahuti adalah anak ke 7 dari 11 bersaudara. Beliau lahir dan dibesarkan di desa Codo, di Kabupaten Malang.
Beliau mempunyai bapak bernama Kartorejo yang lahir di Desa Codo, Kabupaten Malang. Dan ibu bernama Mariatun, yang lahir di Desa Petungsewu, Kabupaten Malang.
Mbahuti Nasmi adalah anak ketujuh dari sebelas saudara, sebagai berikut: Dulkadir, Rasiman, Rasimun, Ratman, Darmi, Tamun, Nasmi, Paisah, Sarmidi, Sarminah, dan Dasripah.

Mbahuti berperawakan agak gemuk, tidak terlalu tinggi, berkulit kuning langsat, dengan wajah bulat khas wanita Jawa. Mbahuti adalah sosok ibu rumah tangga yang sangat berbakti untuk keluarga. Hampir sepanjang waktunya selalu tercurah untuk kepentingan keluarganya. Mbahuti sangat pandai memasak, semua bahan makanan pasti akan jadi masakan yang sangat lezat di tangan beliau. Mulai dari masakan Jawa yang penuh bumbu seperti kare, rawon, lodeh, sampai masakan sederhana seperti sambal penyet tempe, pasti akan sangat nikmat rasanya. Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa, terutama di mata saya yang tidak pandai memasak hehe.
Sewaktu kecil, banyak sekali masakan Mbahuti yang jadi favorit saya. Di antaranya yaitu kecap tahu dan tauge, sayur bayam, dan satu lagi yang tidak ada tandingannya yaitu nasi goreng. Nasi goreng ala Mbahuti berbeda dengan nasi goreng seperti pada umumnya. Nasi gorengnya tidak kering dengan memakai kecap manis dan dicampur dengan telur. Mak nyussss…


Mbahuti adalah seorang istri yang penurut terhadap suaminya. Paling tidak itulah yang terekam di ingatan saya. Meskipun kurang sependapat dengan Mbahkung, biasanya selalu mendengarkan dan mengiyakan semua yang disampaikan Mbahkung. Tipikal perempuan Jawa yang sejati.


Tapi saya ingat, ada satu waktu, anak cucunya ketika berkunjung ke rumah Mbahkung, ingin membeli cui mie dari pedagang yang menjajakan yang lewat di depan rumah. Tapi karena semua paham kalau Mbahkung tidak suka membeli makanan dari luar rumah, tentu saja semuanya maturnya ke Mbahuti. Karena ingin menyenangkan anak cucunya, tentu saja Mbahuti membolehkan untuk membelinya. Kemudian, Mbahuti menemani Mbahkung di dalam kamar, supaya kami semua aman bisa membeli cui mie yang lezat penuh micin tersebut. Haha.


Tiada hari tanpa makanan yang lezat di rumah Mbahkung. Itulah yang selalu terekam di ingatan saya sampai saat ini. Dan tentu saja hal itu terjadi karena usaha keras dari Mbahuti. Kalau para anak cucu berkunjung, Mbahuti pasti akan sangat sibuk memasak. Semua ditanya, “Kepingin maem opo?”. Lalu Mbahuti akan segera pergi berbelanja, dan tak lama pulang sambil membawa banyak bahan makanan.


Sudah jadi kebiasaan, kalau Mbahuti sedang memasak di dapur, para anak menantu dan cucu yang perempuan, pasti ikutan sibuk di dapur juga. Ada yang betul-betul membantu memasak dengan mengupas bawang, memotong sayur, dan sebagainya Tapi pasti ada juga yang hanya duduk, mengobrol, guyon dan membantu mencicipi masakan Mbahuti. Bagaimanapun caranya, biar kelihatan ikutan sibuk di dapur bersama Mbahuti. Hehe.
Rasanya jarang sekali melihat Mbahuti duduk diam berpangku tangan. Pasti ada saja yang sedang dilakukan beliau dalam kesehariannya. Mbahuti memang lincah, aktif, dan senang sekali kalau kedatangan tamu di rumahnya. Setiap ada tamu, baik itu yang termasuk saudara, atau pun yang bukan saudara, pasti dapat perlakuan yang sama dari beliau. Mbahuti pasti akan sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya. Semua pasti tahu betul, kalau datang berkunjung ke rumah Mbahuti, pasti akan ditanya, “Wis maem opo gurung?”. Dan entah itu dijawab sudah makan atau pun belum makan, pasti akan disiapkan makanan. Tidak boleh tidak makan, semua yang datang ya harus makan. Kalau ada tamunya yang menolak meskipun dengan halus, Mbahuti pasti akan kelihatan kecewa. Sudah menjadi rahasia umum, kalau di rumah Mbahuti ya harus makan. Hahaha.


Sampai saat tulisan ini dibuat, Mbahuti alhamdulillah diberi kesehatan yang cukup baik oleh Allah SWT. Memang dari kelincahan dan keaktifan sudah jauh berkurang karena usia beliau yang hampir 90an. Penglihatannya saja yang sudah kurang baik. Namun pendengaran dan daya ingat masih tajam dan baik. Untuk aktifitas sehari hari masih bisa dilakukan sendiri, meskipun dengan pelan-pelan, karena keluhan lutut atau kakinya yang sering sakit. Semoga Allah SWT selalu menjaga, melindungi dan meridhoi Mbahuti di usia sepuhnya ini, aamiin yaa robbal aalamiin.

syahdunya musim dingin

Kami pertama kali tiba di Jepang di awal musim dingin, 14 Desember 2011. Suhu sudah mulai turun sekitar 10 derajat Celcius di pagi menjelang siang, dan menjadi sekitar 5 derajat Celcius di malam hari. Dingin dan segar.


Sebagai warga pendatang yang berasal dari negara tropis, sudah pasti melakukan persiapan untuk menghadapi cuaca musim dingin, apalagi untuk kali pertama bagi saya dan anak-anak saya. Baju dalam khusus musim dingin (heat-tech), jaket musim dingin, sarung tangan, dan penghangat telinga adalah perlengkapan wajib bagi kami bertiga ketika beraktifitas di luar rumah. Padahal bulan Desember itu baru awal memasuki musim dingin, belum puncaknya.
Di bulan Januari akhir sampai pertengahan Februari adalah puncak musim dingin di Jepang. Suhu di pagi sampai siang hari sekitar 5 derajat Celcius dan bisa sampai 1 derajat Celcius di malam hari. Untuk di kota kami, salju tidak turun setiap saat karena memang musim dinginnya tidak terlalu ekstrem. Tapi yang saya ingat, baru tiga hari merasakan musim dingin, salju turun di kota kami.


Ohh jadi ini yang namanya salju. Putih, melayang-layang di udara dengan ringannya, dingin. Bisa menumpuk ketika sampai di tanah. Bisa langsung mencair ketika kita sentuh.


Musim dingin bagi saya sangat menyenangkan. Udara yang dingin, pemandangan dengan warna putih dan kelabu, langit yang mendung, sinar matahari yang hangat, seakan selalu sehati dengan saya yang sering galau kangen dengan rumah di tanah air. Warna hijau dari pepohonan hilang, karena sudah merontokkan daun-daunnya di musim gugur. Yang ada tinggal batang pohon dan ranting-rantingnya.
Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengagumkan. Baru bisa paham rasanya syahdu. Iya, bagi saya musim dingin itu syahdu. Wkwkw


Musim dingin juga selalu sukses menaikkan berat badan minimal tiga kilogram lah. Sudah pasti di musim dingin, pipi kami jadi nyempluk merah merona, lengan jadi bersisi, semua celana jadi sesak. Wkwkw. Hawa dingin memang selalu mengundang lapar. Semua makanan jadi enak. Camilan, roti, es krim, susu, buah. Apalagi kalau makannya di kamar, barengan berempat, pake selimut tebal, sambil nonton acara tv tanah air dari siaran tv online. Sedap. Pol.


Tapi, musim dingin juga selalu sukses menumbangkan kami berempat. Setiap puncak musim dingin, sekitar akhir atau di awal bulan Februari, kami berempat pasti sakit bergantian. Biasanya demam tinggi selama 1 atau 2 hari. Diikuti dengan pilek dan batuk.


Ketika memasuki musim dingin di tahun kedua kami, saya dan anak-anak sudah mulai terbiasa. Kostum musim dingin kami sudah tidak selengkap di musim dingin yang pertama. Cukup memakai baju dalam hangat dan jaket. Sarung tangan dan penutup telinga sudah tidak kami pakai. Sudah mulai mengerti cara mensiasati kedinginan. Asalkan tidak melakukan aktifitas yang terlalu lama di luar ruangan, pasti semuanya oke.
Apalagi di musim dingin yang ketiga, atau di tahun terakhir kami di Jepang. Baju dalam khusus musim dingin (heat-tech) hanya kadang-kadang dipakai ketika sangat dibutuhkan. Saya biasanya cuma memakai sweater tipis dan jaket, pakai celana jeans, pakai sepatu boots. Guaya.


Pastinya kenapa saya suka sekali dengan musim dingin, karena gak ada yang namanya keringatan di musim dingin. Gak ada kegerahan. Gak sumuk. Makan apa aja enak. Pakai sepatu boots yang keren. Dan bisa melihat pemandangan kelabu yang syahdu.


Musim dingin itu kelabu dan syahdu, menenangkan.

– doning, mei 2020 –

bekerja di tanah rantau

Ketika awal merantau di Jepang, saya tidak pernah membayangkan akan seperti apa keseharian saya di sana nantinya. Lebih tepatnya tidak mau membayangkan dan juga tidak sempat, mungkin. Persiapan keberangkatan kami sekeluarga yang cukup singkat, sudah banyak menguras tenaga dan pikiran saya. Selain itu, kalau bayangan apa yang akan terjadi di tempat yang baru dibiarkan masuk ke pikiran, bisa-bisa saya tidak mau diajak hidup merantau.


Setelah sekitar satu atau dua bulan kami tinggal di Jepang, di saat kami mulai beradaptasi dengan rutinitas kehidupan sehari-hari yang baru, barulah saya mulai memikirkan alangkah baiknya kalau saya juga punya aktivitas di luar kegiatan rumah tangga.


Tapi, kegiatan apa yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga, warga asing, dan tidak lancar bahkan bisa dibilang belum bisa bahasa Jepang pula. Dengan karakter masyarakatnya yang sangat menjaga privasi, sepertinya sulit mengharapkan bantuan dari warga asli untuk mencari info tentang solusi masalah saya.


Yang bisa dilakukan pada saat itu adalah bertanya kepada sesama keluarga Indonesia yang sudah lebih lama tinggal di kota kami. Singkat cerita, akhirnya saya mendapat part time job pertama saya sebagai petugas yang menyiapkan kotak bekal makan siap saji atau bento, di sebuah supermarket yang cukup bagus. Tanpa ada pelatihan sebelumnya, saya bisa langsung mulai bekerja. Dan tentu saja, salah terus dong saya. Dimarahin dong sama para senior, yang semuanya nenek-nenek yang sudah puluhan tahun sepertinya bekerja disitu. Sudah capek bekerja sambil berdiri selama 5 jam, ditambah sambil sedih, kuatir salah takut dimarahi pula, akhirnya semakin memantabkan hati untuk berhenti bekerja.


Kecewa, marah, mangkel campur jadi satu. Ditambahi juga sebel, apa iya sih, pekerjaan yang seperti itu yang cuma tersedia buat para ibu-ibu warga asing di Jepang ini??
Biarpun gak kerja disitu, aku pasti bisa eksis di negara ini!


Dimulailah babak perburuan informasi berikutnya. Saya semakin gigih mencari tahu, mencari segala cara, segala jalan (asal halal yaaa) supaya saya punya kegiatan baru di luar rumah. Mulai semakin rajin pasang wajah senyum ramah ke semua orang, baik itu warga asli, atau pun sesama warga asing. Sungguh bersyukur saya punya guru bahasa Inggris semasa SMP, Pak Karno namanya, yang sangat amat ditakuti, karena akibatnya kemampuan bahasa Inggris saya memang lumayan. Ditambah bapak saya juga, yang sering sekali pamer manas-manasin “Papa yang anak kampung aja jago bahasa Inggris, masak kamu gak bisa?”. Terima kasih, Pak Karno. Terima kasih, Pa.
Eh darimana tadi ya? Oh ya, saya mulai gencar mencari banyak kenalan. Terutama sesama warga asing, dan juga keukeh pdkt ke warga setempat. Akhirnya punya deh kenalan dari Vietnam, Korea, dan juga beberapa warga setempat yang memang suka bergaul dengan warga asing.


Oiya perlu digaris bawahi ya, saya gak bisa bahasa Jepang, saya buta huruf hiragana katakana apalagi kanji. Modal saya cuma secuil kosakata sehari-hari bahasa Jepang yang di bawah standar, tapi untungnya dengan kemampuan bahasa Inggris yang dijamin gak bikin malu suami saya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suami mengikuti program host family dari kampusnya, yang membukakan pintu sebesar-besarnya bagi saya untuk bisa eksis di negara sakura ini. Sungguh beruntung, kami mendapat host family yang bisa sedikit lumayan bahasa Inggrisnya, yang sangat baik hati juga. Sekali, dua kali, bahkan sampai berkali-kali, kami berkegiatan bersama. Makan bersama, jalan-jalan keluar kota, dan lain lain.
Oh tentu saja, saya gak melupakan misi utama saya, yaitu ingin eksis. Syarat utama kalau ingin eksis adalah singkirkan rasa malu mu, tunjukkan kegigihanmu.
Saya sampaikan pada host family kami, kalau saya ingin sekali punya kegiatan di luar rumah. Bisa bekerja, jadi sukarelawan, atau apa aja deh, yang penting halal. Dan dari merekalah, saya mulai mendapat tawaran untuk mengajar bahasa Inggris untuk beberapa ibu rumah tangga. Selain itu, saya juga akhirnya mengajar bahasa Inggris untuk satu kelompok lagi.
Mulai dari situ, banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Ada pekerjaan sebagai tenaga sukarela mengajar bahasa Indonesia, dan juga tawaran untuk ikut aktif di perkumpulan orang tua di SD anak saya untuk ikut membacakan buku cerita kepada anak-anak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia – bahasa Jepang.


Ada satu part time job yang paling menyenangkan yang juga saya lakukan di Jepang. Saya menjadi model untuk kelas melukis. Ajaib ya? Kayaknya itu gak bakalan terjadi kalau saya tinggal Indonesia. Dengan memakai kebaya dan kain batik, saya akan duduk manis berpose, selama 2 jam. Tiap 20 menit, timer akan berbunyi tandanya saya boleh istirahat selama 5 menit untuk meluruskan otot yang kelu. Capek memang, banget. Apalagi kalau musim dingin, dan peserta kelas lukisnya meminta saya pose duduk di bawah hanya beralaskan karpet tipis. Dinginnya lantai sampai bisa membuat kaki saya kram. Tapi di saat itu, ketika saya berkebaya di depan banyak orang Jepang, perasaan itu tidak akan terlupakan. Senang, bangga, haru. Saya orang Indonesia, lho!


Kegigihan akan membuka jalan buat cita-citamu. Harus gigih, gak boleh malu, plus ditambahi sedikit dendam gara-gara pernah dibully, bisa manjur juga.

– doning retno pudjowati, mei 2020 –


Akhirnya happy ending toh. Saya bisa eksis tanpa harus bekerja di supermarket, kok.


Bekerja di tanah rantau bukan hanya untuk mencari uang, buat saya. Kalau bisa bekerja sambil bersenang-senang, bertemu orang-orang yang baik, menambah pengalaman juga, tentu jadi lebih menambah semangat untuk hidup di rantau.


Hidup itu penuh perjuangan. Fighting, doning!

– doning retno pudjowati, mei 2020 –

enjoy adalah koentji

Disinilah kami sekeluarga, di kota Ube, di propinsi Yamaguchi, di negara Jepang. Kota Ube mempunyai populasi sebanyak 168.398 penduduk, dengan total wilayah seluas 287,69km2. Ube bukan kota yang besar namun mempunyai fasilitas yang cukup lengkap. Mempunyai satu pusat perbelanjaan atau mall yang cukup lengkap, ada rumah sakit umum, perpustakaan kota, gedung pameran atau seni dan budaya, mempunyai bandara udara dan juga dilengkapi dengan sekolah-sekolah umum dari tingkat TK sampai dengan universitas.


Ketika pertama tinggal di kota ini, kami tinggal di dalam lingkungan kampus. Para tetangga di apartemen kami tentu saja para mahasiswa asing, yang tentunya bukan penduduk asli. Setelah satu tahun lamanya tinggal di International House, akhirnya kami harus pindah mencari tempat tinggal baru di luar lingkungan kampus.
Menempati apartemen yang berada di luar lingkungan kampus, artinya kami akan menjadi semakin sering mempunyai kesempatan berinteraksi langsung dengan penduduk lokal. Apartemen kami berada di kompleks bernama Saruta Jyuuta yang terdiri dari beberapa gedung, dan di tiap gedung terdiri dari lima lantai dengan empat apartemen di setiap lantainya. Ada total sekitar 16 gedung di kompleks tempat tinggal kami, yang artinya ada sekitar 320 keluarga yang tinggal berdekatan.


Di awal kepindahan kami di Saruta, kami tentu harus melakukan pelaporan diri kepada pengurus lingkungan. Kemudian kami mendapat penjelasan tentang peraturan yang berlaku di lingkungan tersebut, misalnya tata cara pembuangan sampah, peraturan untuk memarkir kendaraan, iuran kebersihan, kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, piket untuk membersihkan tempa sampah bersama, dan sebagainya.
Jepang memang sangat handal dalam membuat peraturan, pun dalam hal menegakkan pelaksanaan peraturan tersebut. Semuanya akan dibuat dengan lengkap, terperinci, dan yang penting lagi, sangat mudah untuk dipahami. Bahkan bagi warga asing, biasanya akan dengan mudah memahaminya. Ya memang seharusnya begitu ya, sebagai warga pendatang, tentunya harus sudah siap untuk berusaha sekuat tenaga, untuk berdaptasi.


Tantangan terbesar ketika hidup merantau adalah beradaptasi dengan lingkungan yang baru.


Ketika di Indonesia tidak perlu memilah sampah, namun di Jepang memilah sampah adalah suatu kewajiban. Ketika di Indonesia (kadang) boleh parkir mobil di depan rumah tetangga, asal sudah ijin (seringnya tidak ijin), namun di Jepang harus sudah punya lahan parkir sebelum membeli mobil. Ketika di Indonesia sudah terbiasa mendengar suara adzan dari masjid terdekat, namun di Jepang, jangankan suara adzan, mencari tempat yang layak untuk beribadah lumayan susah. Ketika di Indonesia anak-anak biasanya untuk berangkat atau pulang ke sekolah diantarkan orang tua, namun di Jepang semua anak diharuskan mandiri pulang pergi ke sekolah. Dan masih buanyak lagi, hal-hal baru selama tiga tahun kami merantau. Susah senang, lega khawatir, berbagai perasaan dilalui berganti-ganti, menjadikan tiga tahun berlalu begitu cepat.
Terasa cepat karena kami cukup menikmatinya. Bukan cukup, sangat malah.
Satu hal yang menjadikan kami sekeluarga sangat menikmati kehidupan merantau. Yaitu kami selalu menganggap apapun yang kami hadapi, adalah suatu hal yang menarik, yang mampu membangkitkan rasa penasaran kami. Meskipun tentu saja, tidak semua hal baru tersebut hal-hal yang menyenangkan. Buanyak juga kejadian kurang menyenangkan yang kami lalui, namun karena kami melihatnya sebagai suatu hal baru yang menarik, alhamdulillaah mampu mengobati segala hal perasaan tidak enak yang kami rasakan.


Enjoy aja. Mungkin itu kalimat yang tepat ya.


Dimarahin tetangga karena parkir sebentar di depan rumahnya, enjoy aja. Malu karena kantong sampah dikembalikan tepat di depan pintu apartemen akibat salah memilah sampah, enjoy aja. Sedih galau mewek speechless waktu lebaran karena video call dengan keluarga yang jauh di tanah air, enjoy aja. Dibully sama senior nenek tua di tempat kerja karena bolak balik bikin salah dan akhirnya gak tahan dan berhenti kerja, enjoy aja. Bangun di pagi buta di musim dingin waktu nyalakan pemanas ternyata harus diisi bahan bakarnya dan mengisinya harus di teras balkon sambil kedinginan menggigil agak mewek, enjoy aja. Belanja beras, minyak goreng, susu, dan sebagainya di musim hujan angin dan naik sepeda pancal sambil kaki pegel njarem agak mewek juga, enjoy aja. Waktu sakit sendirian di rumah, anak-anak sekolah sampai sore suami di kampus sampai malam, perut lapar badan panas lidah pait jadi mewek kangen rumah, enjoy aja.


Jadi, sekali lagi, enjoy aja adalah koentji.

-doning retno pudjowati, mei 2020-


Kalau sudah bisa enjoy, mau hidup merantau di mana saja, insya Allah, lantjar djaja. aamiin yaa robbal aalamiin

mulai dari nol (lagi)

Sampailah kami di tempat tinggal yang baru. Jauh dari tanah kelahiran. Berbeda bahasa, beda budaya, beda cuaca, dan sebagainya. Rumah yang baru ini, biasa disebut dengan apartemen di negara ini, di Jepang ini. Merupakan gedung yang terdiri dari empat lantai, dan di tiap lantai ada empat apartemen.


Setiap apartemen ditempati oleh mahasiswa asing beserta keluarganya, bisa juga di satu apartemen ditempati oleh beberapa mahasiswa asing yang tidak membawa keluarganya. Gedung ini disebut International House of Yamaguchi University. Salah satu fasilitas yang disediakan oleh kampus untuk para mahasiswa asing.


Apartemen yang kami tempati kebetulan berada di lantai dasar. Terdiri dari empat ruangan, yaitu dapur sekaligus ada ruang makan, yang bersebelahan langsung tanpa sekat dengan ruang keluarga. Kemudian ada satu kamar tidur, lalu ada satu ruangan kecil yang fungsinya untuk tempat mesin cuci sekaligus ada toilet di dalamnya. Juga ada balkon kecil memanjang atau teras luar, berdekatan dengan ruang keluarga, yang berfungsi sebagai tempat jemuran.


Bukan apartemen yang besar dan luas, apalagi untuk keluarga berjumlah empat orang seperti kami. Tapi itulah hidup merantau, jangan berharap terlalu tinggi untuk apa yang akan kita terima.

Face it, adapt it.


Apartemen ini sudah menyediakan fasilitas yang menjadi kebutuhan utama untuk kehidupan sehari-hari. Di dapurnya sudah ada kompor dengan dua tungku, ada kulkas dua pintu, ada meja makan dengan dua kursinya dan di ruang keluarga sudah tersedia sofa beserta mejanya dan ada lemari buku yang cukup tinggi. Di dalam kamar tidurnya sudah ada dua tempat tidur berukuran single bed, dan ada lemari baju dan meja kecil. Sedangkan di ruang sebelahnya, ada mesin cuci di dekat toilet dengan wastafel dan bathub kecil dengan shower. Di tiap ruangan juga sudah dilengkapi dengan lampu.
Alhamdulillaah, ada ac juga ternyata.


Luas apartemennya sekitar 36m2.
Ketika ditinggali berempat, yang terjadi adalah 4L, “Lu Lagi, Lu Lagi”


Untuk perlengkapan rumah tangga, tentu saja harus kami sediakan sendiri. Seperti peralatan memasak, makan minum, bantal, selimut, alat kebersihan, dan sebagainya. Sudah menjadi hal yang wajar di tempat baru kami ini, untuk mahasiswa Indonesia yang baru datang, pasti akan menerima banyak bantuan dari segala penjuru. Para mahasiswa yang lebih senior akan menawarkan bala batuannya, terutama untuk melengkapi kebutuhan peralatan rumah tangga.


Kami mendapat banyak sumbangan dari para senior, misalnya panci, penggorengan, bahkan ada yang memberi tv. Karena tepat sebelum kami datang, ada senior yang sudah selesai masa sekolahnya, jadi kami mendapat banyak sekali warisan peralatan rumah tangga. Ada kulkas, mesin cuci, microwave, beberapa peralatan memasak, dan sebagainya.


Mobil? Sepeda motor? Tentu saja tidak ada.


Yang kami punya ketika kami baru tinggal di Jepang adalah dua sepeda pancal, yang satu buat suami,dan yang satu buat saya. Masing-masing dengan keranjang di bagian depannya, sangat membantu terutama ketika saya pergi belanja. Bisa diisi beras, susu, minyak goreng, telur, daging, ikan, sayur, dan cemilan. Bisa dibayangkan gimana beratnya sewaktu sepulang dari supermarket. Sampai kalau saya sudah gak kuat mancalnya, ya udah, saya tuntun saja sepedanya. Alon-alon asal klakon.


Hidup merantau ya begitu ya, jangan dilihat dimana kamu akan hidup merantaunya.
Biarpun akan hidup di negara berkembang, atau pun di negara maju sekelas Jepang, ya harus siap hidup mulai dari awal lagi.
Siap hidup mulai dari nol lagi.

serasa baru dilahirkan

Keluar melangkahkan kaki dari pintu bandara di Fukuoka, untuk pertama kalinya menghirup udara negara Jepang. Di musim dingin di bulan desember 2011. Dingin, segar, plong. Yang biasanya hidung ini ada mampet mampetnya, entah kenapa, jadi plong. Dua lubang hidung ini bisa fungsi sefungsi fungsinya, ketika itu.

Aaahh,,segaarr…


Perjalanan selama kurang lebih 7 jam dari Surabaya transit di Taipei dan menuju Tokyo. 2 jam perjalanan dari Malang ke Surabaya, lalu menunggu di bandara Juanda sampai masa takeoff, total sekitar 14 jam untuk bisa menginjakkan kaki di tanah rantau yang baru.
Panjang dan melelahkan. Tapi seakan terbayar tuntas. Karena hidung yang plong. Haha.


Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 siang, ketika kami sampai di kota Ube. Turun dari mobil travel yang mengantar dari bandara Fukuoka, sampailah kami di halaman gedung apartemen International House milik kampus Yamaguchi University. Calon tempat tinggal kami maksimal untuk satu tahun ke depan.


Gedung berbentuk sederhana berlantai 4, dengan warna putih dan krem yang mendominasi. Hanya ada halaman dengan semen plester di depannya, dengan dikelilingi halaman kosong berumput liar di kanan kiri dan belakangnya. Ada tempat untuk parkir sepeda di dekatnya. Ada pula gedung asrama untuk mahasiswa putra di depan. Dan di sebelah adalah gedung International House untuk single atau satu orang/kamar. Sedangkan gedung kami, untuk mahasiswa yang membawa keluarga atau pun yang membutuhkan ruangan yang lebih banyak. Di area gerbang masuk di depan, ada gedung tempat pengurus apartemen dan juga disediakannya tempat sampah bersama.


Apartemen untuk keluarga kami ada di lantai satu. Begitu pintu apartemen dibuka, sudah terlihat semua ruangannya. Ada dapur, ada ruang keluarga, ada toilet dan ruang mesin cuci yng bersebelahan, dan ada teras atau balkon yang sekaligus jadi ruang jemur. Oiya, kamar tidurnya cuma satu. Apartemen yang tidak terlalu kecil, tapi juga tidak luas sama sekali untuk ditinggali berempat. Alhamdulillaah sudah dilengkapi kompor, kulkas, satu set sofa dengan mejanya, ada tempat tidur juga, dan ada mesin cucinya.
Sambil menarik nafas panjang dan perlahan, ya, inilah tempat dimulainya hidup yang baru.

Ada perasaan aneh yang terasa, tapi bukan aneh yang negatif.

Lebih menuju aneh yang positif.

Karena ada semangat yang mulai muncul, yang penasaran akan seperti apa nantinya hari hari ke depannya.
Semua pemandangan yang di depan mata adalah pemandangan baru. Semua yang dirasa adalah perasaan baru yang tidak pernah ada. Aroma baru. Bahasa baru. Di bawah langit yang baru. Tanah tempat berpijak yang baru.


Mungkin ini yang dirasakan ketika baru dilahirkan.

Serasa baru dilahirkan.

sebelum hari keberangkatan

Apa yang ada di benak ketika melintas rencana untuk pindah hidup jauh di negeri sebrang? Tentu yang indah indah dulu yang terbayang. Kerennya hidup di negri orang. Asiknya pengalaman baru. Gagahnya punya teman berbeda bangsa. Nikmatnya makan dengan cita rasa asing. Segarnya cuaca yang baru.

Yang kemudian meluncur cepat di benak, pastinya, bagaimana kemudian?? Bagaimana kalau tidak keren tempatnya. Bagaimana kalau nggak asik. Bagaimana kalau teman teman barunya nggak gagah. Bagaimana kalau ternyata alergi sama makanannya? Bagaimana kalau jadi sering kumat asmanya setelah disana??

Terbaca dengan lucu dan senaif balita. Tapi memang seperti itu adanya.

Ya memang seperti itulah sepengalaman saya. Di tahun 2011 lalu.

Saya yang cuma sempat punya pengalaman hidup merantau selama 2 tahun sewaktu saya usia 2 tahun. Sampai sepanjang usia 30an tahun, hidup di kota yang sama kemudian. Kota kecil pula. Lengkap sudah.

“Tapi garis nasib sudah berkata. Yang tidak terpikir ternyata sudah di depan mata. Yang tak pernah dibayangkan ternyata harus dijalani. Yang bisa dilakukan hanyalah SIAP.”

– doning retno pudjowati, 2019 –

Bersiap-siap tepatnya. Dalam waktu yang cukup singkat. Sekitar 6 bulan sebelum keberangkatan ke tanah rantau.

Semua harus dibereskan. Semua harus dirapikan. Semua harus dipersiapkan. Segera. Tidak sempat berpikir mundur. Tidak sempat terpikir ragu. Seolah tidak ada waktu untuk berkata “TUNGGU BIAR SAYA PIKIR PIKIR DULU”

Apa yang harus dipersiapkan? Apa yang harus dibawa? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus didahulukan dilakukannya??? Bingung ya? Haha ya memang sebingung itulah. Dulu.

Setelah  tarik nafas panjang, dalam, dihembuskan, dari hidung. Tiga kali. Barulah mulai bisa berpikir dengan agak tenang.

Yang perlu dilakukan adalah mengurus dokumen-dokumen yang akan diperlukan. Misalnya, paspor dan visa. Berikutnya yang perlu dilakukan adalah membeli tiket perjalanan (tentu saja). Yang berikutnya lagi adalah menyelesaikan urusan-urusan di tanah air yang berkaitan dengan tempat tinggal, kendaraan, pajak, dsb. Yang berikutnya lagi adalah berusaha meningkatkan kemampuan bahasa asing sesuai dengan negara yang akan kita tuju. Meskipun sudah jelas terbayang ya, belajar bahasa asing yang benar-benar asing selama kurang dari 6 bulan?? Bisa apa itu?? Haha tapi gak apa apa, yang penting berusaha dan sudah berNIAT. Haha

Yang perlu dilakukan tentu saja mempersiapkan diri. Dirinya siapa? Diri yang mana? Ada tiga badan yang bakalan untuk pertama kalinya pergi beratus ratus kilometer dari tanah air tercinta untuk tiga tahun. Bukan saya tok. Ada satu anak laki-laki usia 10 tahun dan satu anak perempuan usia 5 tahun dan tentu saja saya perempuan usia 33 tahun. Ada satu lagi sebenernya, suami, tapi beliau sudah mempersiapkan diri sendiri dengan sempurna karena bukan yang pertama baginya untuk pergi merantau.

Yang berikutnya lagi adalah yang menguras tenaga lagi, merapikan barang-barang di rumah kita yang akan kita tinggal selama tiga tahun! Dan karena kejadiannya jauh sebelum saya paham betapa nikmatnya punya barang secukupnya, jadi, ya cuma dirapikan saja. Tidak ada pemilahan. Tidak ada pengurangan. Cuma dimasukkan ke dalam kardus kardus dan kotak kotak plastik.

Padahal kalau dipikir pikir, seandainya waktu itu saya sudah lebih pintar, dan paham bahwa akan jauh jauh lebih besar manfaatnya bila barang-barang saya itu saya hibahkan ke orang lain. Supaya barang tersebut berdaya guna. Daripada diam membisu selama tiga tahun.

Yah baiklah. Yang sudah ya sudah ya. Lanjut lagi ya!

Yang berikutnya adalah mencari informasi sebanyak banyaknya. Seperti apa sih negara yang akan kita datangi? Bagaimana cuacanya? Bagaimana makanannya? Bagaimana orang-orangnya? Bagaimana budayanya? Bagaimana kita harus bertahan hidup di sana selama tiga tahun nanti?? Haha

Informasi bisa didapat dari apa pun. Dari siapa pun. Terutama kita bisa cari tahu dari orang-orang yang sudah berpengalaman merantau di luar negeri. Syukur  syukur kalau merantaunya sama persis tempatnya dengan tujuan kita. Tanya sebanyak banyaknya. Minta tips sebanyak banyaknya. Minta nasehat sebanyak banyaknya. Jangan malu bertanya. Nanti kamu bakalan sesat di negeri rantau. Serius ini.

Berikutnya, kita bisa mulai siapkan bekal secukupnya yang akan kita bawa. Misalnya baju, bahan makanan, obat, dan sebagainya. Yang terjadi padahal bukan “secukupnya”. Karena perkiraan tiba di tempat baru pada musim dingin, saya membawa banyak baju hangat untuk anak-anak, baju tidur juga, banyak baju dalam anak- anak, bawa bekal makanan instan kesukaan anak-anak, sampai tiga koper ukuran besar! Bukan secukupnya itu, agak berlebihan. Karena sebenarnya kalau untuk baju, kita bisa kok membawa sedikit saja. Malah lebih baik begitu, supaya kita bisa tahu betul seperti apa sikon sesungguhnya. Jadi bisa beli di tempat tujuan saja. Yang sampai sekarang gak habis pikir, dari tiga koper besar itu, ternyata saya malah cuma bisa bawa dua baju, dua baju tidur, dan sedikit sekali baju dalam. Karena dari awal sampai akhir saya repot menata perlengkapan anak-anak, begitu waktunya saya, sudah gak ada tempat lagi di tas. Oalah.

Sudah? Itu aja? Belum. Ada bagian yang terberat lagi.

Yang tak kalah penting dan tak kalah beratnya, bagi saya, adalah meminta restu dari orang tua. Berat. Seberat apa? Berat pokoknya. Nanti di cerita yang lain akan saya ceritakan kenapa berat. Bukan di cerita yang ini. Tambah panjang nanti. Wkwkw

Sila meminta memohon doa restu, setulus tulusnya, dari orang tua. Mintalah maaf, mohonlah maaf atas segala kesalahan kamu kepada orang tua kamu. Bila selama ini kamu punya salah kepada mereka (PASTI), khilaf, memohonlah untuk dimaafkan. Karena restu orang tua adalah yang terutama. Doa restu orang tua yang akan membuka jalan kebaikan bagimu di tanah rantau. Serius ini.

Bagian meminta doa restu saya taruh di akhir, bukan berarti itu yang terakhir dilakukan ya. Bodoh sekali kalau kamu mengartikannya begitu.

Oke. Sepertinya sudah cukup. Itulah apa apa yang perlu dipersiapkan ketika akan pergi merantau. Kalau dirasa salah, jangan ditiru. Kalau dirasa ada benarnya, terima kasih. Semoga manfaat. Alhamdulillaah.

12 Desember 2019

Design a site like this with WordPress.com
Get started