Ada yang mempunyai kesenangan mengumpulkan barang-barang tertentu? Banyak orang menjadi kolektor dari berbagai macam barang yang unik-unik, misalkan kolektor kartu telpon, uang kuno, perangko, boneka Teddy Bear, pernak-pernik tokoh kartun Mickey Mouse, dan sebagainya. Mengkoleksi barang kesukaan tidak terbatas pada barang kecil saja, bahkan banyak juga kolektor mobil antik, atau mungkin ada yang punya kenalan hobinya mengkoleksi rumah? 🙂
Saya memiliki beberapa baju tradisional Jepang, atau yang biasa disebut dengan Kimono. Ada juga Yukata, yaitu kimono yang berbahan katun. Jumlahnya, mungkin sekitar 50 baju. Waduh, buanyak sekali? Buat apa ya? 🙂
Boleh dikatakan, ketidaksengajaan yang membuat saya menjadi kolektor kimono. Awalnya, pada tahun 2011 sampai dengan tahun2014 ketika kami sekeluarga tinggal di Jepang, saya dan anak perempuan saya ikut bergabung dengan perkumpulan menari tradisional di kota tempat kami tinggal. Dari kegiatan tersebut, akhirnya menjadi awal mula saya memiliki kimono dari pemberian guru menari, maupun dari teman-teman Jepang kami. Yang awalnya mendapat hadiah, lama-lama saya semakin menyukai segala hal tentang kimono, kemudian mulai berani membeli kimono. Tapi karena harga kimono di Jepang sangat mahal, pada saat itu saya hanya berani membeli pernak-pernik perlengkapan kimono, itupun membeli di flea market. Yaitu semacam pasar yang diadakan dalam waktu tertentu dengan harga suka-suka, mulai barang bekas dengan harga sangat terjangkau, sampai barang baru juga ada di pasar tersebut. Di flea market saya biasanya berburu kain kimono, obi atau sabuk, geta atau sandal, tabi atau kaus kaki, dan sebagainya, dengan harga yang sangat terjangkau.
Keinginan untuk bisa membeli kimono baru harus benar-benar saya pendam di relung hati terdalam, karena harus realistis. Harga satu kimono baru bisa jadi sebesar biaya hidup kami sekeluarga di Jepang selama satu bulan! 🙂 Namun bagai pucuk dicinta ulampun tiba. Salah satu teman Jepang saya, saya ingat betul, namanya Toge san, beliau seorang wanita paruh baya berusia sekitar 60 an tahun. Yang saya tahu, beliau ini cukup kaya, karena punya hotel atau semacam itulah (saya juga kurang paham). Pada suatu hari, Toge san membawa hadiah untuk saya, yaitu kimono baru dengan kualitas yang sangat baik. Betapa senangnya saya, akhirnya impian untuk bisa mempunyai kimono yang baru akhirnya bisa tercapai.
Begitulah, sampai akhirnya kami sekeluarga pulang kembali di tanah air, tentu dengan membawa sekitar 9 kimono dan yukata yang semuanya merupakan pemberian dari teman Jepang saya. Kemudian barulah muncul ide untuk membuat usaha persewaan kimono dan yukata, diawali dengan membuat profile di Instagram. Ternyata responnya cukup bagus, banyak pihak yang ternyata membutuhkan persewaan kimono dan yukata. Mulai dari pelajar atau mahasiswa yang membutuhkan yukata untuk presentasi kegiatan di sekolahnya, sampai dengan kegiatan prewedding photoshoot dengan konsep Japanesse. Banyak juga institusi atau pun perusahaan swasta yang membutuhkan kimono untuk acara gathering dengan konsep Japanesse, dan sebagainya.
Dengan tanggapan yang cukup baik tersebuut, akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai menambah koleksi kimono dan yukata dengan membelinya. Bisa dengan membeli pada toko kimono di Jepang secara online atau bisa juga dengan titip belanja kepada beberapa teman yang tinggal di Jepang. Apapun cara akan saya tempuh demi menambah koleksi kimono dan yukata, asalkan dengan cara yang halal yaa 🙂
Akhirnya sampai saat ini, jumlah koleksi kimono dan yukata saya ada sekitar 50 baju. Belum termasuk pernak-pernik perlengkapannya ya. Semuanya saya simpan dengan rapi dan selalu saya rawat dengan baik. Meskipun dengan adanya pandemi sejak tahun 2020 lalu yang menurunkan jumlah konsumen di usaha persewaan saya, tapi saya tetap optimis, satu saat nanti, usaha ini akan kembali membaik bahkan menjadi lebih baik lagi. Dan saya juga yakin, jumlah koleksi kimono dan yukata saya akan semakin bertambah 🙂 Aamiin yaa robbal aalamiin
Adakah dari kita semua yang berharap bisa memutar kembali waktu? Atau yaa paling tidak punya sahabat seperti Doraemon yang punya banyak alat ajaib seperti “pintu kemana saja” atau “selimut waktu”. Bisa kemanapun dan yang penting lagi, kapan pun. Bisa ke masa lalu, ke masa depan, atau bahkan ke Pulau Timbuktu. Hanya pecinta komik Donal Bebek yang mengerti pulau itu. 🙂
Terutama saat ini, dimana semua dipaksa untuk mau menerima kondisi baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Yaa, di awal tahun 2020 ini, tepatnya di awal bulan Maret, Indonesia dinyatakan menghadapi kondisi pandemi akibat virus covid-19. Situasi ini menyebabkan pemerintah menganjurkan seluruh rakyat Indonesia untuk lebih mengutamakan melakukan aktifitas di rumah saja. Mulai dari kegiatan bekerja, sekolah, beribadah, dan sebagainya, semuanya diutamakan untuk dilakukan dari rumah secara daring. Menjaga jarak dengan orang lain, selalu menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan untuk menjaga kesehatan, dan juga selalu memakai masker telah menjadi kebutuhan utama bagi semua orang. Tentunya bagi yang peduli dengan pandemi ini. 🙂
Banyak hal menjadi berubah karena pandemi ini. Sekolah melalui daring. Rapat melalui daring. Mengaji melalui daring. Bahkan, senam bersama pun dilakukan secara daring. Hampir semua kegiatan bisa dilakukan secara online atau daring saat ini. Yang dulunya tidak terpikirkan, sekarang, kalau bisa dilakukan secara daring, mengapa tidak?
Begitu luasnya dampak pandemi ini, bahkan sampai mampu mengubah cara berpikir atau pun gaya hidup bagi sebagian besar orang. Yang dulunya suka menghabiskan waktu luang dengan cuci mata di mall, sekarang lebih memilih anteng berkebun di rumah. Yang dulunya tidak mau ketinggalan foto-foto selfie di tempat yang sedang nge hitz untuk diupoad di sosial media, sekarang lebih memilih mencari tempat wisata yang sepi pengunjung. Yang dulunya rajin menambah koleksi lipstick dengan aneka ragam merk atau pun warna, sekarang lebih senang membeli masker dengan aneka motif. Dalam waktu relatif singkat, seluruh masyarakat Indonesia, bahkan di dunia, berusaha untuk mampu beradaptasi dengan kondisi baru ini.
Berdasarkan pengamatan, maupun pengalaman pribadi dari diri sendiri, pandemi covid-19 di tahun 2020 ini menimbulkan banyak hal yang mampu menjadi hal positif, antara lain:
kembalinya “rumahku adalah istanaku”
Dengan dipusatkannya hampir semua kegiatan dari rumah, mau tidak mau semua orang menjadi beraktifitas di rumah. Semua anggota keluarga lebih mengutamakan rumah sebagai tempat yang ternyaman, teraman, terbersih dan terbaik. Rumah menjadi tempat yang paling nyaman karena di dalam rumah, kita bisa melakukan kegiatan apapun dan kapan pun, sesuai yang kita butuhkan. Rumah menjadi tempat yang paling aman, karena di dalam rumah tidak perlu mengkhawatirkan dengan berbagai hal negatif yang telah terjadi selama pandemi. Rumah menjadi tempat yang terbersih dan terbaik karena di dalam rumah kita bisa menerapkan semua hal kita perlukan untuk menjaga kesehatan kita. Rumah telah kembali menjadi pusat dalam aktifitas kehidupan kita.
keluarga adalah yang utama
Pandemi yang mengancam kesehatan manusia, seolah mengembalikan kesadaran setiap orang. Bahwa dalam kehidupan di dunia ini, keluarga adalah yang paling utama. Kesibukan di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan tempat tinggal kita, seringkali menjadikan kita lupa, bahwa kepentingan keluarga adalah yang utama. Mulai dari kebutuhan akan pendidikan, kepentingan hidup sehari-hari, menjaga kesehatan, sampai dengan kebutuhan rohani, ternyata untuk keluarga lah yang sewajibnya paling dinomorsatukan. Kondisi pandemi ternyata mampu menumbuhkan kembali sikap untuk mengutamakan keluarga di atas kepentingan yang lain.
betapa berharganya waktu
Waktu adalah uang. Siapa yang tidak mengenal peribahasa tersebut? Semua orang pasti tahu, tapi ternyata tidak banyak yang memahaminya. Hanya sebatas dihapalkan saja, terutama ketika akan ada ujian pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam pandemi ini, mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin adalah hal utama yang dapat kita lakukan. Waktu terus berjalan, dan tidak akan pernah bisa dikembalikan. Yang akan terjadi di masa depan adalah di luar kemampuan kita. Yang telah terjadi di masa lalu telah terjadi. Yang kita miliki adalah masa kini, detik ini. Betapa berharganya waktu bagi kita semua yang mampu menyadarinya.
Tak terasa sudah hampir 9 bulan negara ini mengalami pandemi. Banyak peristiwa yang tidak menyenangkan yang telah terjadi. Dengan segala hal yang ditimbulkannya, ternyata telah menumbuhkan sikap yang positif sebagai usaha manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Berpikir positif, saling menyemangati, dan berusaha terus sekuat daya upaya yang ada, dan masih banyak lagi sikap positif yang mendorong manusia untuk bertahan di masa sulit ini. Namun yang utama adalah, sikap untuk berdamai dengan waktu, berdamai di tahun 2020 ini, ternyata mampu menjadi kunci untuk terus menjalani waktu, sesulit apapun itu.
Yang akan terjadi di masa depan adalah di luar kemampuan kita. Yang telah terjadi di masa lalu telah terjadi. Yang kita miliki adalah masa kini, detik ini.
Seperti yang pernah saya ceritakan di memasak itu bukan harus, tapi ingin , saya tipe yang tidak suka ribet memasak tapi senang makanan yang enak. Akhirnya, saya menjadi lebih menyukai proses memasak yang tidak terlalu lama tapi tetap bisa menghasilkan masakan yang disukai keluarga. Kali ini saya akan mencoba berbagi beberapa resep masakan anti ribet mode on ala saya, sebagai berikut:
Burger Sapi Lada Hitam
Bahan: daging sapi giling 300 gr, bawang bombay 1 butir ukuran sedang, bawang putih 2 butir, tepung roti, garam, lada hitam, telur ayam kampung 1 butir, minyak goreng kelapa.
Sayuran dan bahan pelengkap untuk sajian: head lettuce, tomat, wortel dan kentang kukus.
Cara memasak: Bawang bombay dan bawang putih dicincang kasar, kemudian tumis semua bahan tersebut dengan sedikit minyak goreng kelapa. Setelah baunya harum mewangi dan bawang bombay berubah warna menjadi bening, masukkan juga daging sapi giling. Tumis semua bahan tersebut sampai daging berubah warna menjadi kepucatan. Angkat dan masukkan dalam wadah. Kemudian tambahkan garam, lada hitam secukupnya, dan kemudian masukkan sekitar 5 sdm tepung roti. Campur semuanya sampai rata. Kemudian ambil secukupnya, bentuk menjadi bulatan-bulatan besar pipih selebar telapak tangan (resep ini bisa menjadi sekitar 6 burger). Lalu, siapkan minyak goreng kelapa, telur yang sudah dikocok, dan tepung roti untuk persiapan menggoreng burger. Ambil adonan burger, masukkan ke kocokan telur, lalu balurkan dengan tepung roti secukupnya. Goreng dengan api sedang, sampai warnanya kuning kecoklatan. Tiriskan di wadah dengan tissue penyerap minyak. Sajikan.
Cara penyajian:
Burger Sapi Lada Hitam disajikan bersama dengan bahan pelengkap yang ditata di sampingnya. Yaitu head lettuce, irisan tomat, wortel dan kentang kukus.
Ayam Bumbu Kecap
Bahan: daging ayam 1/2kg, bawang putih 2 siung, bawang bombay 1/2butir ukuran sedang, 1 paprika merah ukuran sedang, 1 buah tomat ukuran sedang, lada hitam, saus tiram 3sdm, kecap asin 1sdt, kecap manis 1sdm, minyak goreng kelapa, tepung tapioka 1sdm.
Sayuran dan bahan pelengkap untuk sajian: baby buncis 250gr, bawang merah goreng sebagai taburan
Cara memasak: Bawang putih dicincang kasar dan potong bawang bombay tipis-tipis. Kemudian tumis semua dengan sedikit minyak goreng kelapa. Lalu masukkan daging ayam yang sudah dipotong ukuran sedang dan sudah dicuci bersih, tambah air 1 gelas kecil. Tunggu sampai air mendidih sekitar 15 menit supaya daging ayam matang sempurna. Masukkan tomat dan paprika yang sudah diiris memanjang. Masukkan saus tiram, kecap asin, kecap manis, lalu aduk perlahan. Masukkan lada hitam secukupnya. Aduk perlahan dan koreksi rasa. Terakhir, masukkan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dalam 2sdm air matang. Aduk perlahan. Sajikan.
Cara penyajian:
Ayam Bumbu Kecap disajikan dengan tambahan baby buncis rebus yang ditata di sampingnya dan taburan bawang merah goreng.
Gyoza
Bahan: daging giling 250gr (bisa daging sapi, ayam, ikan, atau udang) bawang putih 2 butir, bawang bombay 1 butir ukuran sedang, tepung terigu 3sdm, garam, merica, kulit pangsit
Cara memasak: campur daging giling dengan bawang putih yang sudah dicincang halus. Masukkan bawang bombay yang sudah dicincang kasar, garam dan merica secukupnya. Masukkan tepung terigu. Campur perlahan semua sampai rata. Ambil selembar kulit pangsit, isi dengan satu sendok makan daging giling yang sudah dibumbui. Tutup dan rekatkan pinggiran kulit pangsit dengan air matang. Siapkan wajan, goreng dengan minyak kelapa sedikit dengan api sedang. Tiriskan di wadah dengan tissue penyerap minyak. Sajikan.
Kare Jepang
Bahan: daging sapi 250gr (boleh daging potongan atau yang slice/potongan tipis), wortel 250gr, kentang 250gr, bawang putih 2 butir, bawang bombay 1 butir ukuran sedang, tomat 2 butir, garam, lada hitam, bubuk bumbu kare 5sdm, minyak goreng kelapa, tepung tapioka/kanji 3sdm.
Cara memasak: empukkan daging sapi dengan panci presto selama 45 menit lalu potong dadu ukuran 2cm. Kalau memakai daging yang slice, tidak perlu dipresto. Tumis bawang putih yang sudah dicincang halus dan bawang bombay yang sudah dicincang kasar dengan sedikit minyak goreng kelapa. Masukkan ke dalam air kaldu rebusan, kira-kira sebanyak 5 gelas. Masukkan potongan wortel dan kentang, tunggu sampai empuk. Masukkan bubuk bumbu kare dan potongan tomat. Tambahkan garam dan lada hitam. Aduk perlahan, koreksi rasa. Tambahkan tepung tapioka yang sudah dilarutkan dengan 3sdm air matang, atau sampai sup kental. Sajikan bersama dengan nasi putih, dengan tatanan separuh nasi putih dan separuh kare.
Adakah sekarang ini orang yang kita tahu, yang tidak memiliki akun di media sosial? Kalau dari saya sendiri, ada sih. Tapi, kenalan saya tersebut sudah berusia lanjut dan bertempat tinggal di desa, tempat kelahiran nenek dan ibu saya. Dari semua kenalan saya, bisa dikatakan hampir sekitar 85% nya, mempunyai akun pribadi di suatu media sosial. Bisa di Instagram, Twitter, Whatsapp, Line, Facebook, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Masih berdasarkan riset dari Wearesosial Hootsuite, Youtube menjadi platform yang paling sering digunakanpengguna media sosial di Indonesia berusia 16 hingga 64 tahun. Persentase pengguna yang mengakses Youtube mencapai 88%. Media sosial yang paling sering diakses selanjutnya adalah WhatsApp sebesar 84%, Facebook sebesar 82%, dan Instagram 79%.
Sementara itu, dari sumber riset yang sama, orang-orang Indonesia banyak menghabiskan waktu 3 jam 26 menit untuk menggunakan media sosial dengan segala tujuan. Ada yang ingin menghabiskan waktu luang, ada yang ingin dapat berkomunikasi dengan kenalannya, ada yang dengan tujuan meningkatkan penjualan untuk usahanya, ada yang ingin dapat mengupload videonya, dan lain lain. Sungguh ya, 3 jam itu lumayan lama lho ya. Atau bahkan mungkin banyak juga sesungguhnya yang lebih dari 3 jam setiap harinya untuk ber social media, atau bahkan, mungkin juga saya itu yang termasuk di dalamnya. Atau mungkin, kamu? woww..
Apa yang membuat seseorang menggunakan media sosial? Kalau dari diri saya sendiri, saya mulai aktif di media sosial sejak tahun 2011, di akun Instagram milik saya. Pada saat itu, Instagram masih belum terlalu populer seperti pada saat ini. Saya juga memiliki akun Facebook. Di akun Instagram saya, awalnya saya ingin mempunyai suatu media yang bisa mendokumentasikan gambar-gambar yang mampu mewakili perasaan maupun pengalaman saya selama saya hidup merantau di Jepang. Ya, mulai tahun 2011 sampai dengan 2014 saya sekeluarga hidup merantau untuk menemani suami saya yang sedang melanjutkan sekolah di jenjang S3. Di Instagram, dengan gambar saya ingin menceritakan pengalaman hidup saya. Selain itu, melalui media sosial, saya bisa tetap menjalin komunikasi dengan teman atau keluarga yang ada di tanah air.
Dengan perkembangan waktu, semakin banyak pula yang menggunakan media sosial. Pada saat ini, media sosial sudah berkembang begitu pesat, menjadi sarana yang mewadahi di berbagai bidang kebutuhan manusia. Bukan hanya informasi, bahkan media sosial juga kini berperan penting pada ekonomi. Online shopping adalah suatu sistem yang sangat mendukung semakin dibutuhkannya media sosial.
Namun tentu saja, disamping manfaat yang demikian besar yang bisa kita peroleh dari media sosial, pasti ada juga pengaruh negatif dari pemakaian media sosial. Dari yang awalnya ingin sekedar menyambung silahturahmi, kemudian lama kelamaan menjadi ajang kepo dengan kehidupan orang lain. Dari yang awalnya membutuhkan informasi yang bermanfaat, kemudian lama kelamaan menjadi mendapat informasi yang berlebihan sehingga tidak bisa menyaringnya. Dari yang awalnya ingin sekedar mengisi waktu luang, kemudian lama kelamaan menjadi suatu kegiatan wajib yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan dalam bermedia sosial yang apik, dalam rangka mengoptimalkan manfaat positif yang bisa kita dapatkan, yaitu sebagai berikut:
Menetapkan rumusan masalah dan tujuan bermedia sosial
Alasan apa yang mendasari kita untuk bermedia sosial? Apakah karena ingin menyambung silahturahmi? Apakah untuk keperluan usaha kita? Apakah karena membutuhkan informasi yang lebih lengkap tentang suatu hal yang kita perlukan? Jangan lupakan hal yang mendasari kegiatan bermedia sosial kita. Supaya selalu jelas, supaya selalu terarah dengan baik. Dan tentu saja, jagalah selalu niat awal bermedia sosial pada hal yang positif.
Tentukan apa atau siapa yang layak di dalam jangkauan media sosial kita
Semakin luasnya jangkauan media sosial, seolah tiada batasan di dalamnya. Siapapun, apapun bisa hadir di dalam lingkaran media sosial kita. Baik itu yang kita butuhkan, atau pun yang tidak kita butuhkan. Penetapan apa atau siapa yang layak ada di dalam media sosial kita sangat berpengaruh terhadap kegiatan kita dalam bermedia sosial. Tanpa pembatasan, yang ada hanyalah arus deras informasi yang tiada tujuan.
You are what your following
Sadarkah Anda, kamu adalah apa yang kamu ikuti. Coba buka salah satu akun media sosial yang kamu miliki, lihat kembali daftar akun yang kamu ikuti. Ada saudara, kenalan, teman sekolah satu angkatan, online shop kesukaan, sampai dengan akun orang terkenal atau selebriti yang kamu kagumi. Bagaimana Anda, kesukaan Anda, bahkan sampai gaya hidupmu, bisa terbaca dari akun-akun yang kamu ikuti. Bahkan sebaliknya, apa dan siapa yang kamu ikuti di media sosial, akan membentuk dirimu. Bersyukurlah kalau daftar akun yang ada di media sosialmu adalah akun-akun yang keukeuh sharing hal-hal positif yang bermanfaat. Signyal kuning menuju warning waspada, apabila ternyata, daftar akun yang kamu ikuti penuh dihiasi dengan akun-akun yang ngotot menyebarkan hal-hal ruwet, aura panas membara, ujaran kebencian, pornografi, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya.
Bagaimana Anda, kesukaan Anda, bahkan sampai gaya hidupmu, bisa terbaca dari akun-akun yang kamu ikuti. Bahkan sebaliknya, apa dan siapa yang kamu ikuti di media sosial, akan membentuk dirimu.
– doning, 2020 –
Bermedia sosial bagi saya sekarang bukanlah suatu hal yang saya ikuti karena trending semata. Bermedia sosial adalah salah satu kebutuhan bagi saya untuk membantu dalam meningkatkan kualitas hidup saya. Karena sudah saya tetapkan tujuan saya dalam bermedia sosial, sehingga saya akan amat sangat jauh lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Karena memang sepenting itulah kualitas hidup saya.
Di blog sebelumnya, saya sudah menceritakan tentang kisah perjalanan saya dalam belajar bermakeup. Dari yang awalnya hanya tahu pelembab dan bedak bayi, dan akhirnya sampai pada sudah menemukan gaya bermakeup yang paling nyaman, yaitu gaya alami atau natural.
Kali ini, saya ingin mencoba sharing tentang isi tas makeup saya. Yaah, siapa tahu, bisa bermanfaat. Mekipun saya juga agak ragu, ini ada manfaatnya atau tidak (wkwk). Yang penting, saya ingin berbagi informasi dengan semuanya. Siap?
Berikut ini adalah yang ada di dalam tas makeup saya:
Pelembab
Untuk pelembab wajah, saat ini saya sedang sangat menyukai produk dari Biore UV Watery Gel SPF 50+ PA++++. Saya sudah memakainya selama sekitar 2 atau 3 tahun (kurang lebih) dan masih belum berniat untuk mencari produk lain. Sebagai pelembab produk ini cukup baik melembabkan kulit wajah saya yang berjenis kombinasi ini. Dan bagusnya lagi, sekaligus mampu melindungi kulit wajah dari efek negatif sinar matahari. Kalau ingin yang teksturnya lebih cair, biasanya saya memakai yang jenisnya Watery Essence. Recommended product!
Alas Bedak
Untuk alas bedak, saya memakai produk dari The Body Shop, yaitu Fresh Nude Foundation Hawaii Macadamia 024. Ini termasuk makeup andalan bagi saya, karena teksturnya ringan, tapi sangat baik dalam menutupi bekas-bekas jerawat di wajah saya dengan alami. Hasilnya tidak seperti memakai topeng. Nggak ndemblok, kalo orang jawa bilang. Haha. Ada satu lagi andalan saya, yaitu Fresh Nude Cushion Foundation Comoros Vanilla 02. Ini merupakan perpaduan dari bedak dan liquid foundation. Biasanya cushion saya pakai kalau saya sedang tidak ingin berlama-lama bermakeup, karena tidak perlu memakai bedak lagi
Bedak
Lagi-lagi dari the Body Shop, yaitu Loose Face Powder 03. Warnanya sangat sesuai dan terasa ringan di wajah saya. Tapi, saya juga masih sering memakai bedak andalan saya ketika saya masih belum tertarik dengan yang namanya makeup, yaitu Johsons Baby Powder. Iya, saya masih sulit sekali meninggalkan bedak bayi itu. Sudah telanjur cinta mati sepertinya.
Blush On
Ada dua blush on di tas makeup saya, yang satu adalah Catrice Blush Box 040 Berry. Dan yang satu lagi adalah Kiss Me Ferme 04. Warnanya bagus, kalem, seperti saya ya (paling). Hehe.
Pensil Alis
Saya termasuk yang jarang sekali ‘melukis’ alis, dikarenakan alis saya yang lebar dan lumayan tebal. Meskipun begitu, saya punya pensil alis dari The Body Shop, yaitu Brow Sculpt 3-in-1 Contouring Brow Pen 03 Dark Brown.
Brow Setter
Nah, ini juga termasuk salah satu alat makeup kesukaan saya. Bisa dibilang juga andalan. Karena saya merasa, alis lebar bin agak tebal milik saya ini cukup menyusahkan, tapi dengan produk ini masalah saya teratasi. Tanpa perlu memakai pensil alis, cukup merapikan alis menggunakan produk ini, dan taraaa, alis saya jadi tersisir rapi, dan akan tahan cukup lama. Produk ini adalah Benefit 24-HR Brow Setter. Terima kasih, Benefit! Recommended product!
Eyeliner
Kalau pensil alis tidak terlalu penting bagi saya, lain lagi untuk eyeliner. Kalau sedang ingin bermakeup yang lengkap, pasti saya akan memakai eyeliner. Saat ini saya memakai eyeliner dari Maybelline Colorshow Eyeliner warna coklat.
Eyeshadow
Wah, ini juga jadi andalan saya nih, Clio Prism Air Shadow Sparkling 17 Cooper. Produk dari Korea Selatan ini sangat menyenangan. Hanya dengan satu produk, kita bisa mendapatkan warna eyeshadow yang glittery, namun tidak berlebihan. Recommended product!
Lipstick
Untuk bagian bibir, saya lebih menyukai produk yang sekaligus bisa merawat bibir saya yang sering kering. Ada beberapa yang sering saya pakai, misalnya Nivea Lip Care Fruity Shine Beauty Stick Strawberry Shine. Haha panjang banget namanya. Ini produk lipbalm kesukaan saya, harga sangat terjangkau tapi cukup bisa melembabkan bibir saya dengan baik. Lalu ada juga Shine Lip Liquid 005 Watermelon dari The Body Shop. Lip gloss yang tidak lengket dan melembabkan bibir. Saya juga suka dengan Shiseido MAQuillAGE dramatic Rouge BE322 Honey Beige. Lipstick yang ringan dan juga melembabkan di bibir. Ada juga produk lip liner yang saya sukai, yaitu Lip Definer Pink Clover 003 dari The Body Shop. Yang terakhir, saya juga menyukai lipstick The Body Shop New Colour Crush Lipstick 201 Japanese Blossom. Selain warnanya yang sangat bagus, dan juga lagi-lagi, lipstick yang bisa melembabkan bibir dengan baik, pasti saya suka.
Penjepit Bulumata
Saat ini saya memakai penjepit bulu mata produk dari Miniso. Dengan harga kurang dari tiga puluh ribu rupiah saja, bulu mata yang lentik alami sudah bisa terwujud. Hehe.
Mascara
Nah, untuk produk mascara ini, saya sudah mencoba berbagai produk, dan entah kenapa saya suka sekali dengan mascara yang sekarang saya miliki ini. Maybelline The Falsies Push Up Angel, dengan pemulasnya model sisir, pendek dan jarang, yang sangat memudahkan saya untuk memakai mascara dengan hasil yang alami. Bulu mata bisa terangkat dan lentiknya natural, dan yang lebih penting lagi, cara pemakaiannya sangat mudah. Anti belepotan mode on! Recommended product!
Semoga bedah isi tas makeup saya kali ini bisa membawa manfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Menjadi bermanfaat adalah kekuatan. Kekuatan adalah semangat. Semangat untuk bermanfaat.
Sudah menjadi hal yang biasa bagi wanita untuk menghias wajahnya, atau yang biasa disebut dengan memakai makeup. Ada yang merasa bermakeup adalah suatu keharusan sebelum memulai aktifitas dalam sehari-hari. Namun banyak pula yang memakai makeup seperlunya, sesuai dengan kebutuhan saja. Saya termasuk di golongan kedua, kadang memakai makeup, sering juga tidak. Kalau sedang tidak ada kegiatan di luar rumah, biasanya saya lebih memilih tidak memakai makeup. Tapi apabila berencana untuk pergi ke suatu tempat, saya akan memakai makeup, itu pun menyesuaikan dengan jenis acaranya.
Berbagai macam jenis makeup tersedia di pasaran. Mulai dari yang berharga puluhan ribu, sampai dengan ratusan ribu rupiah. Dari yang katanya 100% pembuatannya memakai bahan-bahan alami sampai yang tidak jelas dibuat dari bahan apa. Dari yang mempunyai merk yang dikenal di seluruh dunia, sampai yang hanya dipasarkan di dalam negeri. Dari makeup yang sudah dipasarkan sejak puluhan tahun yang lalu, sampai makeup yang kekinian yang lagi nge-hitz.
Memakai makeup bagi saya bukan sesuatu hal yang sederhana atau gampang. Bahkan sangat sulit. Apalagi saya memang tidak terbiasa menggunakan makeup untuk kegiatan sehari-hari. Ketika saya tumbuh dewasa, yang saya ingat, memakai makeup itu hal yang merepotkan. Harus memakai alas bedak, harus pintar memilih warna lipstick, harus bisa melukis alis, harus memakai blushon dan masih banyak harus harus lainnya. Mungkin karena merasa terlalu banyak aturannya dalam bermakeup, akhirnya dari kecil sampai usia dewasa, kurang besar minat dan perhatian saya dalam hal bermakeup. Yang saya lakukan cuma memakai pelembab wajah dan memakai bedak bayi, karena tidak mau repot. Akhirnya, pengetahuan saya tentang dunia per-makeup-an memang sangat minim sekali.
Namun, waktu terus berubah, begitu pun manusia. Begitu pun saya. Di usia 30-an yang sudah tidak terlalu muda lagi, saya mulai berminat dengan yang namanya makeup. Hal itu terjadi karena kami sekeluarga pindah ke Jepang. Dan yang ternyata, di negara tersebut, bisa dikatakan hamper semua wanita memakai makeup. Mungkin 98% wanita Jepang memakai makeup dalam aktifitas sehari-harinya. Hanya 2% nya yang tidak bermakeup, itu pun mungkin sedang sakit, atau mungkin sedang kehabisan bedak. hehe. Semua wanita Jepang di segala usia, mulai remaja usia belasan, sampai yang lanjut usia pun, akan memakai makeup. Baik yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sampai pekerja kantoran, akan memakai makeup sebelum memulai aktifitas sehari-hari.
Namun, waktu terus berubah, begitu pun manusia. Begitu pun saya.
– doning retno pudjowati –
Sebagai warga pendatang, saya selalu mengamati kegiatan warga lokal. Baik itu warga Jepang yang saya kenal, maupun yang tidak. Dari pengamatan saya, wanita Jepang itu aktif, sehat, dan selalu terlihat cantik. Wajah mereka terlihat cerah dan dengan gerak bahasa tubuh yang selalu aktif, membuat mereka terlihat bersemangat dan percaya diri. Ternyata salah satu kuncinya, wanita Jepang tidak lupa untuk bermakeup sebelum memulai aktifitas hariannya. Kalau belum memakai makeup akan mengurangi kepercayaan diri, kata mereka.
Ketika tinggal di Jepang saya mulai tertarik untuk membeli beberapa peralatan makeup. Mulai berani mencoba-coba dan belajar untuk menggunakan makeup. Begitu banyak pilihan makeup yang tersedia, saking banyaknya merk dan dengan pengetahuan yang sangat minim, akhirnya ya pilihan saya hanya membeli makeup yang harganya terjangkau. Itupun membeli di supermarket yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Tidak mencari makeup dengan merk khusus atau di toko khusus yang menjual peralatan makeup.
Berbagai pengalaman selama proses belajar bermakeup, mulai dari pilihan warna alas bedak yang terlalu muda, bentuk alis yang aneh, sampai kemudian akhirnya mulai mengerti, warna alas bedak yang cocok dengan wajah saya, warna eyeliner yang saya sukai, dan sebagainya. Ada satu pengalaman, alas bedak yang saya miliki adalah yang saya beli di supermarket dengan harga yang murah, dan juga tanpa mengerti betul jenis kulit wajah saya. Selama memakainya, biasanya ada saja yang saya rasa kurang cocok. Terasa terlalu tebal, padahal sudah setipis mungkin saya memakainya. Tapi terasa kurang bisa menutupi beberapa bekas jerawat, jadinya serba salah. Kemudian suatu waktu, ada salah satu kenalan saya, seorang wanita Jepang, yang memberi hadiah alas bedak kepada saya. Alas bedak tersebut merupakan produk buatan Jepang yang harganya lumayan mahal. Dan ketika saya mencoba untuk memakainya, sungguh terasa benar perbedaannya dengan alas bedak saya yang lama. Warna alas bedak yang baru ini sungguh cocok dengan wajah saya, dan terasa ringan di wajah, tapi juga mampu menutupi dengan sangat baik bekas-bekas jerawat. Dari pengalaman saya, hingga saat ini ternyata saya lebih menyukai gaya bermakeup yang alami atau natural. Atau yang sekarang lebih sering disebut no makeup look.
Ada beberapa perlengkapan makeup yang bisa dikatakan menjadi hal yang wajib saya miliki, terutama untuk gaya alami atau natural, yaitu sebagai berikut:
Pelembab wajah
Melembabkan wajah sebelum memakai perlengkapan makeup yang lainnya merupakan hal yang utama. Karena, dengan kondisi kulit wajah yang cukup lembab, makeup akan lebih mudah untuk diaplikasikan pada wajah kita. selain itu, menggunakan pelembab wajah dengan kandungan SPF yang baik, dapat sekaligus membantu melindungi kulit wajah kita dari efek negatif paparan sinar matahari. Bagi saya, pelembab dengan SPF 30 sampai dengan SPF 50, akan menjadi pilihan yang baik.
Alas bedak
Bagi saya, pemakaian alas bedak yang baik akan sangat menentukan hasil akhir dari proses bermakeup. Sehingga, dalam memilih alas bedak pun, kita harus lebih hati-hati. Perlu diketahui dulu warna dan jenis kulit wajah kita, supaya kita juga bisa menentukan alas bedak. Bagi saya, warna alas bedak yang sedikit lebih gelap dari warna kulit kita, akan menghasilkan riasan yang alami. Jangan lupa, pilih yang sesuai dengan jenis kulit, apakah untuk kulit kering, berminyak, atau kombinasi. Saat ini sudah banyak dijual pelembab yang sekaligus bisa berfungsi sebagai alas bedak. Tapi biasanya hasilnya memang kurang bisa menutupi bekas jerawat karena teksturnya yang jauh lebih ringan. Penggunaan alas bedak memang tergantung dari kebutuhan. Bagi saya, kalau saya ingin makeup yang lebih tahan lama atau untuk menghadiri acara resmi, saya akan memakai alas bedak.
Bedak
Demikian juga dengan bedak wajah, hampir sama dengan alas bedak, kita sebaiknya memilih warna yang sesuai dengan warna kulit wajah. Supaya hasil riasan akan tampak alami pemakaian bedak secara tipis-tipis saja, atau bisa juga dengan menggunakan transclucent powder (bedak transparan).
Pensil Alis
Untuk bagian alis, ini akan sangat tergantung jenis alisnya. Bagi saya yang mempunyai alis cukup tebal, pemakaian pensil alis hanya untuk sedikit memberi sedikit warna supaya bentuk alis lebih bagus. Tapi juga banyak wanita yang membutuhkan pensil alis untuk membentuk alis sekaligus memberi warna karena alis yang dimiliki cukup tipis. Saya lebih menyukai pemakaian brow setter yang akan membantu untuk menjaga bentuk alis saya yang lebar dan tebal ini supaya lebih rapi dalam waktu yang lama dengan gaya yang alami.
Eyeshadow
Untuk kesan alami, bisa digunakan pilihan warna eyeshadow yang kecoklatan, dengan sedikit shimmering supaya mata nampak lebih cerah. Saya sangat menyukai warna-warna eyeshadow yang muda dengan sedikit glitter.
Eyeliner
Untuk mempertegas bentuk mata bisa pula digunakan eyeliner dengan warna yang alami. Misal warna coklat muda, abu-abu gelap, dan sebagainya. Eyeliner kesukaan saya biasanya yang berbentuk pensil dengan warna coklat.
Blush on
Pemakaian blush on dengan warna natural seperti peach, coklat muda dapat memberikan kesan segar alami. Cukup disapukan tipis di sekitar tulang pipi, bisa memberi kesan segar di wajah.
Mascara
Mascara juga dibutuhkan, supaya mata terlihat lebih cerah. Bisa dipilih mascara dengan ujung yang kecil, supaya hasilnya juga lebih alami. Ujung maskara yang pendek juga memudahkan kita untuk mengatur hasil ketebalan maskara yang kita inginkan.
Semakin lama sampai kemudian pulang kembali ke tanah air, akhirnya saya juga semakin tertarik dalam belajar bermakeup. Karena menurut saya, kemampuan bermakeup merupakan salah satu ketrampilan yang sebaiknya juga dimiliki wanita, meskipun tidak setiap saat kita akan memakai makeup. Dengan terampil bermakeup banyak hal positif yang bisa diperoleh. Kita bisa belajar mandiri, tidak tergantung pada orang lain. Selain itu, bisa meningkatkan kepercayaan diri. Karena kita akan semakin paham tentang diri sendiri.
Bagi saya, bermakeup termasuk kebutuhan pibadi, sehingga sangat tergantung pada kebutuhan dari masing-masing orang. Tidak ada aturan betul salah dalam bermakeup. Yang semakin saya pahami, dalam bermakeup adalah kenyamanan diri sendiri. Yang penting, sebelum memakai makeup, kita sebaiknya memahami dengan baik apa yang kita butuhkan, sehingga bermakeup mampu menjadi cara mengekspresikan diri. Apakah merk makeup menentukan hasil akhir dari riasan kita? Menurut saya bisa ya, bisa juga tidak. Karena, menurut saya kemampuan kita, selera kita, keinginan kita lah yang paling menentukan hasil akhirnya.
Bermakeup itu bebas, seinginnya kita, sebutuhnya kita. Karena bermakeup itu pilihan kita.
Siapa yang suka makan enak? Sayaa .. Siapa yang suka makan enak tapi gak suka ribet masak? Sayaaaaaa ..
Mulai dari awal berumah tangga, saya selalu tinggal serumah dengan orang tua. Almarhumah Ibu saya, adalah seorang yang cekatan dalam memasak. Apapun, kalau diolah dan dimasak oleh beliau, pasti enak banget rasanya. Ibu saya sudah hapal, masakan apa saja yang disukai cucu- cucunya, saya yang doyan sayur yang bening-bening, suami saya yang suka dengan sambal super pedas ala ibu saya. Jarang sekali kami di rumah membeli masakan jadi dari restoran. Malah menurut saya, jauh lebih enak masakan ibu saya daripada masakan restoran.
Karena keenakan dengan kehadiran ibu saya yang amat sangat baik hati dan penyayang tersebut, saya yang juga sudah menjadi seorang ibu, tidak ada kesempatan untuk memasak jadinya. Tidak ada kesempatan dan tidak percaya diri karena membayangkan nanti hasil masakan bakal dibully sama semua orang serumah, sepertinya itu alasan yang lebih detilnya ya.
Sampai kemudian tibalah saatnya, saya harus mengahadapi kenyataan. Saya bersama suami dan anak-anak harus pergi merantau ke Jepang selama 3 tahun. Saat itu, yang paling membuat saya khawatir sebenarnya adalah, saya harus masak apa selama hidup disana nanti??? Tapi gak mungkin kan ya, saya tidak mau ikut menemani suami yang akan berjuang melanjutkan sekolah S3 nun jauh disana, hanya gara-gara saya tidak bisa memasak. Iso diguyu karo semut (bisa diketawain sama semut) begitu kata Mbahkung saya pasti kalau beliau masih ada. Gimana coba, ada yang tahu, semut kalau tertawa bagaimana, sih?? Gak ada suaranya mungkin ya, tertawa sampai berguling guling sambil memegangi perutnya sampai air matanya keluar. Lucu
Dengan kesempatan hidup merantau itu, saya ingin memaksa diri sendiri untuk mau belajar segala macam hal yang berkaitan dengan memasak. Belajar memotong ayam, belajar membersihkan ikan, belajar memilih sayur, belajar menyimpan bahan masakan, dan sebagainya. Jadi ingat, saat saya pertama kali membersihkan ikan ya di rantau, juga kali pertama memotong-motong ayam dari ukuran ayam utuh. Setelahnya jadi masakannya, saya nggak mau memakannya, nggak tega, banget.
Kesempatan akan merubah seseorang. Akan menjadi lebih baik, atau menjadi tidak lebih baik.
– doning retno, 2020 –
Sungguh perjuangan yang berat saat itu di tanah rantau, bukan buat saya, tapi buat suami dan anak-anak saya. Hahaha. Karena butuh waktu yang tidak singkat bagi saya, supaya hasil masakan saya sampai di level enak menurut mereka. Kesabaran dan dukungan keluarga sungguh luar biasa. Mulai masakan yang keasinan, sampai yang kurang asin. Mulai masakan yang tidak jelas bentuknya, sampai yang tidak ada judulnya. Semuanya dimakan, semuanya dilahap, dan tidak sampai menimbulkan mual, perut kembung atau pun muntah-muntah. Aman terkendali. Alhamdulillaah.
Dari perjuangan belajar memasak tersebut, terus berlanjut hingga menjadi kebiasaan sampai saat ini. Setelah kembali dari merantau itu, lidah anak-anak saya dan suami sudah mulai teracuni oleh gaya masakan saya. Selama di Jepang, karena terkendala mencari bumbu rempah-rempah yang biasanya banyak digunakan untuk masakan Indonesia, akhirnya saya lebih sering memakai bawang putih, bawang bombay, lada hitam, dan beberapa bumbu jadi sederhana lainnya. Misalnya kecap manis, saus tomat, saus tiram, kecap asin, garam, gula dan sebagainya. Dan tidak lupa memakai senjata andalan kaldu daging kalau ingin rasa yang lebih kuat. Di supermarket di jepang tidak ada yang menjual ketumbar, laos, kunyit, sereh, daun jeruk, daun salam, bahkan bawang merah susah menemukannya. Tidak ada santan, tidak ada gula merah, tidak ada terasi bahkan yang menyedihkan bagi suami saya khususnya sebagai penyuka pedas, tidak ada cabe-cabean. Haha. Maksud saya, tidak ada cabay di sana. Bisa didapat hanya dengan membeli secara online dengan harga tidak murah. Ribet ya. Kalau bisa memasak dengan cara mudah, kenapa pakai cara ribet?
Ada beberapa poin penting bagi saya dalam kegiatan memasak, yaitu sebagai berikut:
Poin pertama Kemampuan memasak itu menurut saya sesuai dengan jam terbang. Semakin lama seseorang mempraktekkan kegiatan memasak dalam kehidupannya, semakin banyak masakan yang pernah diolah, itulah yang menjadi penentu jam terbangnya. Apabila jam terbangnya semakin lama, biasanya masakannya pun akan semakin enak.
Poin kedua Adalah keinginan memasak, tidak kalah pentingnya dalam kegiatan ini. Apabila kita merasa memasak menjadi suatu hal yang ingin kita lakukan, motivasi yang dipunyai akan lebih kuat untuk melakukannya. Ingin tidak sama dengan harus, tapi ingin mirip dengan mau. Kalau ingin pasti mau, tapi kalau harus, belum tentu ingin.
Poin ketiga Menyiapkan makanan merupakan salah satu kebutuhan utama dalam hidup kita. Namun, bukanlah kebutuhan yang paling penting juga dalam hidup ini. Bebaskan pemikiran dari rasa harus begini harus begitu dalam memasak. Nikmati semua proses memasak. Mulai dari memilih bahannya, mengolahnya, sampai menikmati hasil masakannya, nikmati saja sebagai kegiatan yang biasa, bukan luar biasa. Memasak ya memasak.
Poin keempat Setelah berjalan sekian lama dengan pengalaman memasak saya, akhirnya semakin pula meningkat kesadaran untuk lebih memperhatikan bahan-bahan dalam masakan saya. Yang dulunya memakai penyedap masakan karena tidak percaya diri dengan rasa masakannya, akhirnya sekarang sama sekali tidak memakai penyedap rasa. Yang dulunya lebih suka masakan berbahan daging, sekarang lebih menyukai masakan dengan sayur yang lebih banyak. Yang dulunya tidak peduli dengan porsi buah dan sayur dalam makanan, sekarang kalau tidak ada sayur atau buah dalam sehari rasanya ada yang kurang. Memasak sendiri juga menjadi usaha meningkatkan kualitas hidup bagi saya. Semacam self healing begitu deh.
Kalau ingin pasti mau, tapi kalau harus, belum tentu ingin.
– gninod, 2020 –
Pada akhirnya, pengalaman merantau membentuk karakter memasak ala saya. Lebih suka dengan bumbu yang tidak aneh-aneh, dengan cara memasak sederhana, mudah dan cepat. Jangan ditanya judul masakannya apa, karena tidak berjudul. Yang penting jadi masakan yang enak, yang penting tidak membuat sakit perut, dan yang penting lagi semuanya suka ternyata. Saya yang memasak senang karena tidak capek, suami dan anak-anak senang juga karena tidak sakit perut kok ternyata.
Ibuk senang, semua juga senang. Catet.
– ibuk doning, juli 2020 –
Sekali waktu saya juga masak masakan Indonesia yang menjadi kesukaan keluarga saya. Misalkan rawon, soto ayam, kare ayam, rendang dan sebagainya. Kalau jenis masakan itu, biasanya saya mengandalkan pada ahlinya, bumbu instant. Tapi bisa dihitung, mungkin bisa sebulan sekali saja membuat masakan dengan memakai bumbu instant. Saya sudah menyerah kalau harus belajar membuat bumbu sendiri untuk masakan-masakan itu. Mungkin satu saat nanti saya mau belajar.
Sekian cerita kali ini, semoga membawa manfaat bagi siapa pun yang membacanya. Dan ya, mungkin lain kesempatan saya akan mencoba menuliskan beberapa resep masakan sederhana yang menjadi kesukaan saya sekeluarga.
Buku adalah jendela dunia. Sudah sering kita dengar istilah tersebut. Bahwa dengan membaca buku, kita seolah bisa melihat atau menyaksikan pemandangan tentang dunia di luar kita. Cukup dengan hanya duduk manis, membuka dan membaca halaman lembaran buku, menikmati setiap kata dan kalimat di dalamnya, kita bisa menemukan berbagai hal baru yang bahkan mungkin tidak pernah kita alami atau ketahui sebelumnya.
Bagi saya, buku memang sudah menjadi kawan baik atau bahkan bisa dibilang, buku telah menjadi sahabat sejak saya kecil. Dulu ketika saya masih kecil, ibu saya tercinta sangat mendukung anak-anaknya untuk belajar menyukai kegiatan membaca, baik itu membaca majalah, komik, maupun koran. Di rumah selalu berlangganan berbagai macam majalah. Mulai majalah anak-anak Bobo, Ananda, sampai majalah Gadis, koran Jawa Pos, selalu ada di rumah. Saya juga sudah terbiasa melihat ibu saya membaca majalah Femina sebagai salah satu kesukaan beliau. Selain itu, era tahun 80an sampai 90an yang menjadi masa kecil saya merupakan masa kejayaan komik di Indonesia (menurut saya). Setiap anak pasti membaca komik, entah dari buku komik punya sendiri atau pun dari meminjam. Bisa meminjam antar sesama teman, atau dari perpustakaan umum maupun perpustakaan pribadi. Sangat mudah menemukan tempat persewaan buku dengan harga sewa yang sangat terjangkau.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, saya biasanya makan siang sambil membaca buku. Apa pun saya baca, bisa komik, novel anak-anak, sampai koran. Terserah baca apa saja, yang penting ada yang saya baca sambil makan siang. Kebiasaan itu berlanjut mulai saya SD bahkan sampai ketika saya sudah kuliah. Kalau makan siang tidak ditemani buku, rasanya ada yang kurang. Bahkan ketika kuliah, misalkan ketika saya sudah berhasil mengumpulkan tugas gambar yang berlembar-lembar banyaknya yang tujuh hari tujuh malam mengerjakannya, biasanya saya akan menyewa komik sebagai reward bagi diri sendiri, dan juga sebagai pelepas lelah dan suntuk. Membaca buku merupakan salah satu sumber kesenangan dan keasyikan bagi saya dari dulu.
Ketika saya sudah berkeluarga, kegiatan membaca buku mulai jauh sangat berkurang. Ada saja alasannya. Sibuk dengan anak lah, banyak pekerjaan rumah tangga lah, dan malas juga termasuk menjadi alasan yang kuat sebenarnya. Memang, bukan berarti tidak pernah membaca buku sama sekali, tetapi sudah sangat jarang saya meluangkan waktu khusus secara teratur untuk melakukan kesenangan saya tersebut.
Malas itu jahat banget. Jangan turuti, jangan diakui keberadaannya. Acuhkan! Ayo, jangan mau malas!
– doning, juli 2020 –
Beberapa waktu terakhir ini, sekitar hampir lebih dari setahun yang lalu, saya mulai termotivasi untuk akrab kembali bersama buku. Saya mulai aktif mencari-cari buku yang sesuai dengan minat saya. Mulai dari membeli buku yang sedang best seller, baik di toko buku atau pun membeli secara online, dan juga meminjam buku dari ayah mertua saya. Saya sangat beruntung karena Bapak memiliki koleksi buku-buku bermutu sangat banyak yang tersimpan sangat baik di rumah beliau. Jumlahnya ratusan buku (mungkin) dan disimpan di dalam beberapa lemari buku yang tertata dengan sangat apik di dalam rumah. Setiap saya berkunjung ke rumah beliau, pasti ada saja buku yang mampu menjadi magnet, seakan-akan menarik-narik tangan saya supaya segera meraihnya dan membawa pulang.
Buku bisa menjadi magnet. Bisa menjadi teman, sahabat. Bahkan buku bisa menjadi dunia yang sama sekali baru.
– gninod, 2020 –
Berdasarkan pengalaman pribadi saya, ada beberapa hal yang sangat baik, yang bisa didapatkan dari kegiatan membaca buku, yaitu sebagai berikut:
Dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi Ketika akan membaca buku, sebaiknya saya mengetahui gambaran seperti apa isi buku tersebut. Hal ini akan memudahkan saya untuk berkonsentrasi terhadap tema buku tersebut. Apalagi kalau tema bukunya sesuai dengan minat saya. Buku bisa mengarahkan saya menuju suasana tertentu bila saya bisa fokus. Dengan berkonsentrasi, saya bisa memahami dengan baik tema yang ingin disampaikan oleh buku tersebut. Sehingga, saya menjadi terbiasa juga untuk fokus dan konsentrasi terhadap kegiatan yang saya lakukan sehari-hari.
Menambah pengetahuan baru Semakin banyak membaca buku, akan semakin banyak pula pengetahuan baru yang saya dapat. Dan semakin mengerti pula, bahwa ternyata wawasan saya belum terlalu luas. Di dalam buku saya bisa menemukan berbagai macam hal. Mulai dari yang saya suka, maupun yang saya tidak suka. Dengan membaca buku, bisa membantu saya untuk lebih memahami akan diri sendiri, apa yang menjadi keinginan saya, apa yang bisa memotivasi saya, maupun apa yang sebaiknya saya hindari karena tidak sesuai dengan kebutuhan saya.
Melatih otak Kegiatan membaca buku merupakan latihan bagi otak. Karena dibutuhkan aktifitas berpikir dan konsentrasi, maka otak akan dilatih semakin kuat. Kosakata baru, pengetahuan baru, dan imajinasi yang saya dapatkan mampu mengasah otak agar selalu up to date. Supaya gak lemot kalau orang bilang. Kalau ingin melatih fisik, saya akan berolahraga. Kalau ingin melatih otak, ya saya akan membaca buku.
Menemukan segala rasa dalam buku Tema buku yang akan saya baca menjadi poin utama ketika saya akan membaca buku. Buku tersebut harus buku yang sesuai dengan yang saya butuhkan. Sehingga saya tidak hanya sekedar membaca, namun bisa menikmati kegiatan membaca tersebut. Bahkan bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya miliki. Buku seolah bisa menjadi ajang curahan hati bagi saya, dan juga menjadi teman yang selalu setia dan terpercaya setiap saat. Segala galau juga bisa musnah bersama buku. Ketika ingin termotivasi, saya akan membaca buku The Miracle of The DNA dari Kazuo Murakami. Ketika ingin yang lucu-lucu, saya akan membaca komik Kobo Chan. Ketika ingin merasakan suatu dunia baru, saya akan ambil bukunya Pramodya Ananta Toer.
Kalau ingin melatih fisik, saya akan berolahraga. Kalau ingin melatih otak, ya saya akan membaca buku.
– doning retno pudjowati, juli 2020 –
Keasyikan dengan buku menjadi salah satu kegiatan favorit bagi saya sekarang. Kalau sedang ada waktu senggang, baca buku. Menunggu antrian ketika akan membayar pajak, baca buku. Bosan dengan acara di televisi, baca buku saja. Semoga yang saya sampaikan bisa bermanfaat. Dan semoga, apabila cerita-cerita dalam blog saya ini sudah terkumpul cukup banyak, suatu saat nanti bisa saya kumpulkan, dan kemudian bisa dicetak untuk menjadi sebuah buku. AAMIIN YAA ROBBAL AALAMIIN.
Kapan kamu terakhir kali berolahraga? Tadi sore? Tadi pagi? Dua hari lalu? Atau dua tahun yang lalu? Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya dua tahun yang lalu, sudah pasti saya jawabnya sesuai pertanyaan yang terakhir di atas: “Saya terakhir kali berolahraga dua tahun lalu.” Tapi, kalau pertanyaannya diberikan ke saya yang sekarang, saya bisa menjawabnya : “Tadi sore, saya olahraga yoga 25 menit, di teras belakang rumah saya, bersama anak perempuan saya.” Alhamdulillaah, olahraga sudah mulai menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari saya, sejak sekitar satu tahun yang lalu. Paling tidak, saya berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu. Kalau sedang sangat rajin, ya setiap hari pasti olahraga. Kalau gak olahraga sehari atau dua hari, badan rasanya agak kaku. Dan juga berasa ada yang kurang gitu.
Seperti yang sudah saya tulis di awal tadi, saya belum lama mulai aktif untuk rutin berolahraga. Baru mulai aktif sejak sekitar setahun yang lalu, di awal tahun 2019. Ketika itu saya mulai merasakan ketidakbugaran pada diri sendiri. Badan sering capek, malas, jantung sering berdebar, keringat dingin, dan sering tidak bisa fokus . Pikiran sering melayang-layang tidak jelas arah tujuannya. Bahkan yang lebih jeleknya, sering mulai dihinggapi rasa cemas yang berlebihan terhadap apapun. Singkat cerita, setelah saya aktif berkonsultasi dengan seorang teman yang berprofesi sebagai dokter spesialis syaraf, ternyata saya mengalami ketidakseimbangan hormon. Dan dengan didampingi mendapatkan pengobatan dari beliau, saya juga selalu mendapat bimbingan tentang kondisi fisik saya, yang ternyata sangat berhubungan erat dengan kondisi mental yang saya alami. Sangat banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari peristiwa yang saya alami, dan juga hikmah luar biasa.
Salah satunya, untuk membantu menghilangkan rasa cemas yang sering saya alami, saya disarankan untuk mulai aktif berolahraga. Olahraga apapun boleh, yang penting saya menyukainya. Dan pilihan saya untuk memulai kegiatan olahraga setelah puluhan tahun tidak berolahraga, adalah yoga. Mengapa memilih yoga? Awalnya karena coba-coba saja, karena banyak yang bilang yoga baik untuk mengolah jiwa dan juga raga. Selain itu, awalnya tidak percaya diri kalau akan mencoba olahraga lain yang tampaknya akan sangat melelahkan, yang ternyata yoga yang tampaknya sangat santai, justru menguras tenaga yang lebih besar lagi. Haha.
Saya tidak mengikuti kelas yoga secara berkelompok. Supaya bisa lebih memudahkan, saya mencoba yoga dengan mengunduh aplikasi yoga di smartphone saya. Alhamdulillaah, pertama kali mengunduh, dan langsung cocok, bahkan sangat cinta, sampai sekarang. Dari awalnya melakukan yoga di dalam kamar, lalu pindah tempat di ruang keluarga, sampai melakukannya di teras rumah. Saya melakukan yoga kapan pun saya mau, dan dimana pun yang saya inginkan. Kalau saya tergantung pada suatu tempat pelatihan yoga, tentunya saya tidak bisa mendapatkan yang saya inginkan, bisa beryoga kapanpun dan dimanapun.
Di dalam yoga, saya mulai belajar tentang mengatur pernapasan, mengendalikan gerak otot dan badan saya, dan yang paling penting bagi saya adalah, saya bisa belajar untuk lebih sabar, pantang menyerah, dan fokus dengan keberadaan diri sendiri. Di awal perkenalan saya dengan yoga, cukup melakukannya dalam waktu 20 sampai 30 menit. Bisa dilakukan tiap dua hari sekali. Atau kapan pun saya menginginkannya. Bisa di pagi hari, di sore hari, bahkan di malam hari sebelum tidur. Tapi sekarang, saya bisa melakukan yoga dalam waktu 30 menit sampai 60 menit. Waktu akan berjalan terasa cepat ketika saya sedang beryoga. Cepat dan menyenangkan.
Semakin lama beryoga, ketika rupanya badan saya sudah mulai terbiasa dengan latihan fisik, semakin bertambah pula rupanya keinginan untuk bergerak aktif. Saya mulai mencoba olahraga yang lain, yaitu jalan pagi. Cukup dengan berjalan di daerah di sekitar lingkungan rumah, selama 20 sampai 30 menit setiap pagi. Lama-lama, menjadi selama 45 menit dan bisa sampai 60 menit. Yang awalnya dengan berjalan santai, semakin lama diselingi dengan berjalan cepat, dan sekarang di akhiri dengan lari kecil selama 5 sampai 10 menit.
You will never get enough with exercises.
– gninod, 2020 –
Ketika sedang berolahraga, saya merasa memiliki waktu yang khusus untuk saya sendiri. Waktu istimewa hanya untuk diri sendiri. Seolah saya sedang memberi hadiah untuk diri sendiri. Dan apa yang kita rasakan kalau kita mendapat hadiah? Tentu saja, kita akan menjadi senang. Ya memang itulah yang saya dapat dengan berolahraga. Saya menjadi senang. Siapa yang tidak suka dengan perasaan senang?? Tidak ada dong, ya. Semua orang pasti ingin senang.
Namun, dari sekian banyak hal menyenangkan yang bisa saya dapatkan dari olahraga, ada satu hal yang pasti yang lebih menyenangkan. Perlahan tapi pasti, perasaan cemas berlebihan yang saya alami selama sekitar satu tahun, mulai menghilang. Pikiran-pikiran negatif, hilang fokus yang sering saya dapat, mulai tidak pernah menghampiri.
Sungguh ya, olahraga itu bisa menjadi sumber kebahagiaan juga, ternyata.
Semoga, cerita saya bisa bermanfaat buat siapa pun yang membaca blog ini. Terutama bagi yang sedang ingin memulai untuk berolahraga, atau pun yang sedang mempunyai masalah untuk bisa mengatasi kecemasan. Di lain kesempatan saya akan mencoba menceritakan juga pengalaman saya dalam menghadapi masalah kecemasan, insya Allah.
apapun, bagaimanapun, jangan menyerah. Kamu pasti bisa.
Sudah sering ya, kita mendengar kata “decluttering”? Apa itu decluttering? Decluttering adalah kegiatan membereskan rumah dengan mengurangi barang-barang yang sudah tidak diperlukan lagi.
Saya dulunya suka sekali menyimpan barang di rumah, apalagi kalau barang-barang tersebut punya kenangan khusus. Misalkan, baju yang saya simpan karena suka dengan warna atau motifnya, mainan anak-anak saya yang saya beli di hari ulang tahun mereka, majalah yang ada artikel yang saya sukai, dan sebagainya. Sepertinya tidak ada yang salah ya. Tapi, jadi menimbulkan masalah, kalau baju-baju itu ternyata baju stok lama, yang saya pakai ketika belum melahirkan, atau mainan tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi oleh anak-anak yang udah beranjak remaja, dan artikel-artikel di majalah lama sudah usang, jamuran, menumpuk setinggi gunung Panderman, dan parahnya ternyata saya tidak pernah membacanya lagi. Haha.
Di ruang keluarga, di kamar tidur, di ruang tamu, di dapur, di seluruh ruangan di rumah saya, pasti selalu dibersihkan setiap harinya. Dilap, disapu dan di pel juga. Tapi kok selalu kelihatan tidak rapi. Sering jadinya merasa rumah kok semakin lama semakin penuh ya. Ada apa ini dengan rumahku? Padahal masalahnya berasal bukan dari rumahnya. Lalu darimana sebenarnya akar permasalahannya?
Awal dari timbulnya minat kami sekeluarga untuk mulai belajar decluttering adalah ketika mulai hidup merantau di Jepang. Sebagai pendatang baru, tentu saja baran-barang di rumah kami tidak banyak. Kami membeli barang-barang sesuai kebutuhan hidup sehari-hari. sebagian juga kami dapatkan dari pemberian sesama perantau atau pun dari kenalan kami orang Jepang. Budaya untuk menggunakan kembali barang-barang yang tidak baru namun masih berfungsi dengan baik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Used shop sangat mudah ditemukan. Gaya hidup dengan memakai prinsip reuse reduce recycle, mulai membuat mata hati kami makin paham. Betapa menyenangkannya, memudahkannya, dan juga menghematkannya prinsip 3R itu. Yah, tapi kami belum sampai ke recycle sih. Baru sampai reuse dan reduce.
Meskipun sebenarnya godaan untuk menimbun barang di Jepang itu sungguh amatlah besar. Banyak sekali used shop yang menyediakan barang-barang second dengan kondisi bagus tapi dengan harga sangat terjangkau. Belum lagi adanya flea market, yaitu pasar musiman yang menjual beragam barang baru atau second dengan harga suka-suka. Kadang malah gratis diberikan penjualnya. Semua barang pasti bisa kita miliki di Jepang, asalkan tahu caranya.
Selain mudah mendapatkan barang sesuai kebutuhan, di Jepang juga sangat mudah untuk “membuang” sampah kita. Mudah maksudnya bukan berarti kita bisa buang sampah di sembarang tempat semau kita. Namun sudah dipastikan dan dijalankan dengan sangat baik cara untuk mengolah sampah dari rumah kita. Di tiap lingkungan sudah ditentukan peraturan dan jadwal untuk pembuangan sampah rumah tangga. Baik itu sampah organik, unorganik, maupun sampah daur ulang. Ketertaturan jadwal pembuangan sampah juga membuat kami mudah menyortir barang-barang di rumah kami. Kalau ada barang yang sekiranya sudah tidak kami perlukan, kami hanya perlu pastikan tidak ketinggalan jadwal pembuangan sampah. Di hari yang ditentukan, misalkan kami akan “membuang” baju-baju atau sepatu, tinggal ditaruh di dalam kantong plastik khusus untuk sampah daur ulang, lalu kami letakkan di tempat pembuangan sampah sesuai peraturan di lingkungan kami.
Sedikit demi sedikit hal tersebut menumbuhkan sikap baru di keluarga kami, yaitu mulai “aware” atau perhatian dengan barang-barang pribadi kami. Kami bisa paham, barang apa yang kami punyai sekarang di rumah, barang apa yang kami butuhkan, atau pun barang apa yang tidak kami butuhkan. Kesadaran untuk merawat barang-barang pribadi juga semakin baik. Karena biaya hidup yang cukup tinggi, alangkah baiknya menggunakan dan menyimpan barang yang kita butuhkan dengan baik. Daripada membeli yang artinya pengeluaran lagi. Pelajaran pengolahan sampah selama hidup di Jepang, membuat kami mulai paham, betapa sesungguhnya sampah itu tanggung jawab kita sendiri. Penyebutan kata “sampah”, seolah membuat hal itu diluar dari diri kita. Padahal sampah itu dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Sampah ada karena kita, sampah terjadi oleh kita, dan akibat yang ditimbulkan sampah akhirnya kita yang menerima. Yang sesungguhnya disebut sampah itu adalah barang yang kita hasilkan sendiri.
Ketika kami sekeluarga pulang kembali ke tanah air, kami mulai beradaptasi lagi. Kembali ke habitat asal kami, namun dengan berbagai sikap baru bawaan kami dari tanah rantau. Ternyata baru kami sadari, barang-barang di rumah kami amat sangat banyak sekali. Oh, no! sebelum merantau memang saya beres-beres rumah, tapi hanya menyimpan, merapikan dan menempatkan barang-barang di tempat tertentu. Saya tidak menyeleksinya, baik itu barang-barang yang masih dibutuhkan maupun yang tidak pernah dipakai, semuanya ada.
Sebelum merantau, saya tipikal penyayang barang, suka eman-eman sama barang. Saking sayangnya, sampai-sampai meskipn barang tersebut sudah tidak bermanfat bagi saya, biasanya masih saja saya simpan.
“Ah, siapa tau suatu saat berguna lagi” “Kamu berjasa besar bagiku, sebagai tanda terima kasihku akan kusimpan baik-baik. I laf yu, sepatu jaman kuliahku” “Betapa beruntungnya aku dulu dapetin kamu. Waktu itu dapet doorprize, dari sekian puluh orang, aku yang dapetin kamu, wahai oven toaster 1500 watt”
Yah begitulah. Hayooo,, ngaku aja deh,, ada yang merasa mirip-mirip gitu sama saya yang dulu seperti contoh di atas, kan??
Mengakui suatu sifat kita itu bagus lho. Menunjukkan adanya proses kesadaran diri, mulai ngerti diri sendiri, mulai ngeh keberadaan diri.
– gninod, june 2020 –
Akhirnya, saya dan suami yang mulai merasa kurang cocok dengan kondisi rumah akibat sifat lama dari diri sendiri, berusaha merapikan rumah kami. Mulai dari lemari baju, lemari buku, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, kamar anak-anak, garasi, ruang jemuran, sampai gudang. Semuanya kami lakukan sendiri, tidak ada target waktu kapan harus selesai karena saking banyaknya yang harus dilakukan ya. Yang penting menjaga teguhnya niat untuk merapikan rumah dan selalu ingat prinsip 3R tadi. Reduce reuse recycle.
Ada tiga poin penting bagi kami dalam memilah barang-barang di rumah, yaitu:
Barang yang masih kami butuhkan Untuk barang yang masih kami butuhkan, akan kami lihat lagi dengan seksama. Apakah barang itu sering kami pakai? Kalau sering berarti kami butuh dan menyukainya, dan tentunya barang yang berkategori ini sudah seharusnya kami simpan. Apakah barang itu sudah lama banget tidak terpakai? Kalau jawabnya iya, berarti kami butuh tapi tidak menyukainya, berarti bisa kita berikan ke orang lain. atau bisa juga dijual.
Barang yang tidak kami butuhkan tetapi masih berfungsi dengan baik Banyak juga barang-barang yang tidak pernah kami pakai karena tidak pernah kami butuhkan ternyata. Untuk kategori ini, supaya tidak mubadzir, kami akan tawarkan ke orang-orang terdekat yang kami kenal dulu, siapa yang membutuhkan barang tersebut dan mau menerimanya. Kalau tidak ada yang mau menerima ya gak apa-apa, ada option dijual, atau bisa juga diberikan ke pemulung.
Barang yang sudah rusak Nah, kalau untuk barang-barang yang rusak, bisa dilihat lagi, apakah bisa diperbaiki? Kalau bisa ya alhamdulillaah, bisa disimpan kalau sesuai dengan poin kesatu seperti tersebut di atas, atau geser ke poin kedua. Kalau sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki sesuai fungsinya, diusahakan lagi, bisakah dialihfungsikan menjadi barang dengan manfaat yang berbeda. Apabila bisa menjadi barang dengan manfaat yang baru, dilanjutkan lagi dilihat apakah sesuai dengan poin pertama atau pun poin kedua seperti di atas.
Setelah mulai lagi beradaptasi dengan gaya hidup yang baru ini, banyak hal baik yang bisa kami peroleh. Barang-barang di rumah kami mulai terkendali jumlahnya. Kami sudah mulai mengerti barang apa saja yang ada di rumah kami, pun barang yang tidak kami punyai. Ketika akan membeli barang baru, akan lebih panjang pertimbangannya, apa betul kita memerlukan barang itu? Kami juga lebih perhatian dengan barang, dirawat, dibersihkan, dan disimpan dengan baik menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Dan, yang penting lagi, sesuai dengan tujuan awal kami, rumah sekarang berasa lebih lapang, lebih rapi, lebih bersih.
Hasil usaha yang sesuai dengan niat dan tujuan, disebut sukses. Tidak ada sukses kecil, sukses besar, sukses sedang. Pokoknya sukses.
– doning, 2020 –
Sampai sekarang pun, bukan berarti berhenti declutteringnya di rumah kami. Usaha ini akan terus kami lakukan, karena kami semakin lama semakin cocok dengan gaya hidup ini. Lagipula, masih banyak PR, ada beberapa bagian di rumah kami yang menurut saya belum sukses declutteringnya. Misal di gudang dan di area garasi rumah. Mungkin karena area tersebut tidak terlihat dari aktifitas sehari-hari, jadinya kurang termotivasi. Semoga, dengan mencurahkan isi hati di blog ini, saya jadi terbakar lagi semangatnya.