Sudah sering ya, kita mendengar kata “decluttering”? Apa itu decluttering?
Decluttering adalah kegiatan membereskan rumah dengan mengurangi barang-barang yang sudah tidak diperlukan lagi.
Saya dulunya suka sekali menyimpan barang di rumah, apalagi kalau barang-barang tersebut punya kenangan khusus. Misalkan, baju yang saya simpan karena suka dengan warna atau motifnya, mainan anak-anak saya yang saya beli di hari ulang tahun mereka, majalah yang ada artikel yang saya sukai, dan sebagainya. Sepertinya tidak ada yang salah ya. Tapi, jadi menimbulkan masalah, kalau baju-baju itu ternyata baju stok lama, yang saya pakai ketika belum melahirkan, atau mainan tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi oleh anak-anak yang udah beranjak remaja, dan artikel-artikel di majalah lama sudah usang, jamuran, menumpuk setinggi gunung Panderman, dan parahnya ternyata saya tidak pernah membacanya lagi. Haha.
Di ruang keluarga, di kamar tidur, di ruang tamu, di dapur, di seluruh ruangan di rumah saya, pasti selalu dibersihkan setiap harinya. Dilap, disapu dan di pel juga. Tapi kok selalu kelihatan tidak rapi. Sering jadinya merasa rumah kok semakin lama semakin penuh ya. Ada apa ini dengan rumahku?
Padahal masalahnya berasal bukan dari rumahnya. Lalu darimana sebenarnya akar permasalahannya?
Awal dari timbulnya minat kami sekeluarga untuk mulai belajar decluttering adalah ketika mulai hidup merantau di Jepang. Sebagai pendatang baru, tentu saja baran-barang di rumah kami tidak banyak. Kami membeli barang-barang sesuai kebutuhan hidup sehari-hari. sebagian juga kami dapatkan dari pemberian sesama perantau atau pun dari kenalan kami orang Jepang. Budaya untuk menggunakan kembali barang-barang yang tidak baru namun masih berfungsi dengan baik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Used shop sangat mudah ditemukan. Gaya hidup dengan memakai prinsip reuse reduce recycle, mulai membuat mata hati kami makin paham. Betapa menyenangkannya, memudahkannya, dan juga menghematkannya prinsip 3R itu. Yah, tapi kami belum sampai ke recycle sih. Baru sampai reuse dan reduce.
Meskipun sebenarnya godaan untuk menimbun barang di Jepang itu sungguh amatlah besar. Banyak sekali used shop yang menyediakan barang-barang second dengan kondisi bagus tapi dengan harga sangat terjangkau. Belum lagi adanya flea market, yaitu pasar musiman yang menjual beragam barang baru atau second dengan harga suka-suka. Kadang malah gratis diberikan penjualnya. Semua barang pasti bisa kita miliki di Jepang, asalkan tahu caranya.
Selain mudah mendapatkan barang sesuai kebutuhan, di Jepang juga sangat mudah untuk “membuang” sampah kita. Mudah maksudnya bukan berarti kita bisa buang sampah di sembarang tempat semau kita. Namun sudah dipastikan dan dijalankan dengan sangat baik cara untuk mengolah sampah dari rumah kita. Di tiap lingkungan sudah ditentukan peraturan dan jadwal untuk pembuangan sampah rumah tangga. Baik itu sampah organik, unorganik, maupun sampah daur ulang. Ketertaturan jadwal pembuangan sampah juga membuat kami mudah menyortir barang-barang di rumah kami. Kalau ada barang yang sekiranya sudah tidak kami perlukan, kami hanya perlu pastikan tidak ketinggalan jadwal pembuangan sampah. Di hari yang ditentukan, misalkan kami akan “membuang” baju-baju atau sepatu, tinggal ditaruh di dalam kantong plastik khusus untuk sampah daur ulang, lalu kami letakkan di tempat pembuangan sampah sesuai peraturan di lingkungan kami.
Sedikit demi sedikit hal tersebut menumbuhkan sikap baru di keluarga kami, yaitu mulai “aware” atau perhatian dengan barang-barang pribadi kami. Kami bisa paham, barang apa yang kami punyai sekarang di rumah, barang apa yang kami butuhkan, atau pun barang apa yang tidak kami butuhkan. Kesadaran untuk merawat barang-barang pribadi juga semakin baik. Karena biaya hidup yang cukup tinggi, alangkah baiknya menggunakan dan menyimpan barang yang kita butuhkan dengan baik. Daripada membeli yang artinya pengeluaran lagi.
Pelajaran pengolahan sampah selama hidup di Jepang, membuat kami mulai paham, betapa sesungguhnya sampah itu tanggung jawab kita sendiri. Penyebutan kata “sampah”, seolah membuat hal itu diluar dari diri kita. Padahal sampah itu dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Sampah ada karena kita, sampah terjadi oleh kita, dan akibat yang ditimbulkan sampah akhirnya kita yang menerima. Yang sesungguhnya disebut sampah itu adalah barang yang kita hasilkan sendiri.
Ketika kami sekeluarga pulang kembali ke tanah air, kami mulai beradaptasi lagi. Kembali ke habitat asal kami, namun dengan berbagai sikap baru bawaan kami dari tanah rantau. Ternyata baru kami sadari, barang-barang di rumah kami amat sangat banyak sekali. Oh, no! sebelum merantau memang saya beres-beres rumah, tapi hanya menyimpan, merapikan dan menempatkan barang-barang di tempat tertentu. Saya tidak menyeleksinya, baik itu barang-barang yang masih dibutuhkan maupun yang tidak pernah dipakai, semuanya ada.
Sebelum merantau, saya tipikal penyayang barang, suka eman-eman sama barang. Saking sayangnya, sampai-sampai meskipn barang tersebut sudah tidak bermanfat bagi saya, biasanya masih saja saya simpan.
“Ah, siapa tau suatu saat berguna lagi”
“Kamu berjasa besar bagiku, sebagai tanda terima kasihku akan kusimpan baik-baik. I laf yu, sepatu jaman kuliahku”
“Betapa beruntungnya aku dulu dapetin kamu. Waktu itu dapet doorprize, dari sekian puluh orang, aku yang dapetin kamu, wahai oven toaster 1500 watt”
Yah begitulah. Hayooo,, ngaku aja deh,, ada yang merasa mirip-mirip gitu sama saya yang dulu seperti contoh di atas, kan??
– gninod, june 2020 –
Mengakui suatu sifat kita itu bagus lho. Menunjukkan adanya proses kesadaran diri, mulai ngerti diri sendiri, mulai ngeh keberadaan diri.
Akhirnya, saya dan suami yang mulai merasa kurang cocok dengan kondisi rumah akibat sifat lama dari diri sendiri, berusaha merapikan rumah kami. Mulai dari lemari baju, lemari buku, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, kamar anak-anak, garasi, ruang jemuran, sampai gudang. Semuanya kami lakukan sendiri, tidak ada target waktu kapan harus selesai karena saking banyaknya yang harus dilakukan ya. Yang penting menjaga teguhnya niat untuk merapikan rumah dan selalu ingat prinsip 3R tadi. Reduce reuse recycle.
Ada tiga poin penting bagi kami dalam memilah barang-barang di rumah, yaitu:
Barang yang masih kami butuhkan
Untuk barang yang masih kami butuhkan, akan kami lihat lagi dengan seksama. Apakah barang itu sering kami pakai? Kalau sering berarti kami butuh dan menyukainya, dan tentunya barang yang berkategori ini sudah seharusnya kami simpan. Apakah barang itu sudah lama banget tidak terpakai? Kalau jawabnya iya, berarti kami butuh tapi tidak menyukainya, berarti bisa kita berikan ke orang lain. atau bisa juga dijual.
Barang yang tidak kami butuhkan tetapi masih berfungsi dengan baik
Banyak juga barang-barang yang tidak pernah kami pakai karena tidak pernah kami butuhkan ternyata. Untuk kategori ini, supaya tidak mubadzir, kami akan tawarkan ke orang-orang terdekat yang kami kenal dulu, siapa yang membutuhkan barang tersebut dan mau menerimanya. Kalau tidak ada yang mau menerima ya gak apa-apa, ada option dijual, atau bisa juga diberikan ke pemulung.
Barang yang sudah rusak
Nah, kalau untuk barang-barang yang rusak, bisa dilihat lagi, apakah bisa diperbaiki? Kalau bisa ya alhamdulillaah, bisa disimpan kalau sesuai dengan poin kesatu seperti tersebut di atas, atau geser ke poin kedua. Kalau sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki sesuai fungsinya, diusahakan lagi, bisakah dialihfungsikan menjadi barang dengan manfaat yang berbeda. Apabila bisa menjadi barang dengan manfaat yang baru, dilanjutkan lagi dilihat apakah sesuai dengan poin pertama atau pun poin kedua seperti di atas.
Setelah mulai lagi beradaptasi dengan gaya hidup yang baru ini, banyak hal baik yang bisa kami peroleh. Barang-barang di rumah kami mulai terkendali jumlahnya. Kami sudah mulai mengerti barang apa saja yang ada di rumah kami, pun barang yang tidak kami punyai. Ketika akan membeli barang baru, akan lebih panjang pertimbangannya, apa betul kita memerlukan barang itu? Kami juga lebih perhatian dengan barang, dirawat, dibersihkan, dan disimpan dengan baik menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Dan, yang penting lagi, sesuai dengan tujuan awal kami, rumah sekarang berasa lebih lapang, lebih rapi, lebih bersih.
– doning, 2020 –
Hasil usaha yang sesuai dengan niat dan tujuan, disebut sukses. Tidak ada sukses kecil, sukses besar, sukses sedang. Pokoknya sukses.
Sampai sekarang pun, bukan berarti berhenti declutteringnya di rumah kami. Usaha ini akan terus kami lakukan, karena kami semakin lama semakin cocok dengan gaya hidup ini. Lagipula, masih banyak PR, ada beberapa bagian di rumah kami yang menurut saya belum sukses declutteringnya. Misal di gudang dan di area garasi rumah. Mungkin karena area tersebut tidak terlihat dari aktifitas sehari-hari, jadinya kurang termotivasi. Semoga, dengan mencurahkan isi hati di blog ini, saya jadi terbakar lagi semangatnya.
Yooossshh! Ganbatte!!

